Dalam pidato perdananya setelah pengambilan sumpah, Torres bicara soal visi besar. Ia ingin membangun apa yang ia sebut sebagai “negara yang lebih bijaksana” sekaligus memulihkan kepercayaan masyarakat yang sudah lama luntur.
Ucapan ini terasa klise bagi sebagian orang, tapi bagi pendukungnya, ini adalah sinyal awal untuk mencoba menjahit kembali tenun kebangsaan yang terkoyak karena polarisasi politik tajam.
Warisan Masa Lalu dan Tantangan Masa Depan
Keiko Fujimori mencetak sejarah. Ia menjadi perempuan pertama yang menempati kursi tertinggi sebagai presiden Peru. Prestasi ini ia raih setelah menelan pil pahit kekalahan dalam empat kali percobaan selama 15 tahun terakhir. Namun, kursi kepresidenan yang ia duduki kali ini tidak sepenuhnya empuk.
Margin kemenangan yang tipis membuat posisinya rentan terhadap gelombang kritik, terutama dari kelompok yang masih skeptis dengan kemampuan sang presiden dalam menyatukan negara.
Bayang-bayang masa lalu masih terus menghantui. Nama besar ayahnya, mendiang Alberto Fujimori, tetap jadi beban berat. Warisan kepemimpinan sang ayah yang tercoreng skandal korupsi serta pelanggaran hak asasi manusia seringkali ditarik-tarik ke dalam debat politik saat ini.
Warga Peru masih terbelah; sebagian melihat Keiko sebagai harapan baru, sementara lainnya masih trauma dengan kebijakan era ayahnya.
Kemenangan Fujimori dan dominasi di Senat ini juga menegaskan pergeseran arah politik Peru ke poros kanan, seirama dengan tren serupa yang tengah terjadi di beberapa negara Amerika Latin lainnya. Saat ini, semua mata tertuju pada pemilihan pimpinan majelis rendah yang beranggotakan 130 dewan.
Proses itu akan dilakukan dalam waktu dekat, sebelum sidang tahunan Kongres Peru dibuka secara resmi pada Senin besok.
Langkah-langkah awal di parlemen inilah yang akan menentukan, apakah pemerintahan baru Fujimori bisa bertahan lama atau justru akan tergulung oleh krisis yang sama seperti pendahulunya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.