Bagian paling menariknya ada di sini. Mesin yang selama ini dianggap alat kantor biasa justru berubah jadi titik lemah keamanan. Dalam lingkungan yang penuh pengawasan, kamera kecil di balik panel fotokopi bisa bekerja tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan bila cerita itu benar, CIA mendapat akses ke dokumen yang keluar-masuk mesin setiap kali ada orang menekan tombol salin.
Popular Science menyebut CIA tidak pernah mengonfirmasi maupun membantah cerita itu. Satu-satunya jejak yang tersedia datang dari laporan tahun 1997 dan pengakuan Zoppoth, yang kemudian didukung koleganya tanpa bersedia berbicara resmi. Dengan kata lain, detail operasi ini tetap berada di wilayah yang sangat tertutup.
Kenapa kisah ini masih relevan sekarang
Kisah mata-mata CIA Xerox terasa tua, tapi masalah yang dibawanya masih hidup. Laporan TechRadar Pro menekankan bahwa kekhawatiran soal perangkat kantor bukan perkara baru. Dulu, mesin fotokopi bisa jadi alat intelijen. Sekarang, orang lebih sering khawatir soal ponsel, CCTV, atau laptop yang menuntut perlindungan privasi tambahan.
Artinya, risiko keamanan tidak selalu datang dari perangkat yang terlihat canggih. Kadang justru dari benda paling biasa di ruangan. Mesin fotokopi, printer, pemindai. Semua bisa menyimpan celah kalau dipakai dalam lingkungan yang sensitif. Cerita ini juga menunjukkan betapa awalnya paranoia digital yang kini akrab di kantor modern.
Menjelang akhir cerita, Xerox bahkan disebut kembali dimintai bantuan untuk menanam kamera di Xerox 813, model yang lebih ramping dan dipakai kementerian, lembaga, serta kantor diplomatik di berbagai negara. Jika kisah itu akurat, maka operasi tersebut bukan sekadar eksperimen unik.
Ia menjadi pengingat bahwa alat kerja paling membosankan sekalipun bisa berubah menjadi ancaman keamanan yang serius.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.