DEPOK — Grab Indonesia resmi memperkenalkan tiga fitur keselamatan baru bagi mitra pengemudi dan penumpang di Indonesia. Inovasi ini hadir sebagai upaya menekan risiko kecelakaan sekaligus meningkatkan respons cepat dalam situasi darurat di jalan raya.
Peluncuran teknologi ini berlangsung dalam rangkaian pelatihan keselamatan berkendara yang diselenggarakan bersama Kementerian Perhubungan dan Korlantas Polri. Kegiatan ini serentak digelar di lima kota besar, yakni Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan, dengan melibatkan lebih dari seribu mitra pengemudi.
Sistem Deteksi Suara hingga Integrasi 110
Tiga fitur baru yang dirancang untuk melindungi mobilitas masyarakat tersebut mencakup Audio Protect Plus. Sistem ini bekerja mendeteksi suara selama perjalanan agar perusahaan mampu merespons lebih cepat apabila terdapat indikasi insiden.
Selain itu, terdapat fitur Fatigue Nudge. Teknologi ini berfungsi sebagai pengingat bagi mitra pengemudi untuk beristirahat setelah mengemudi dalam durasi tertentu. Langkah ini dinilai krusial untuk meminimalisir risiko kelelahan yang sering kali memicu kecelakaan lalu lintas.
Terakhir, Grab mengintegrasikan layanan aplikasi dengan Polisi 110. Melalui sistem ini, baik mitra pengemudi maupun penumpang dapat menghubungi bantuan kepolisian secara instan jika menghadapi situasi darurat di perjalanan.
Pentingnya Kesadaran Berlalu Lintas
Menteri Perhubungan, Doddy Purwagandhi, menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi budaya dalam setiap operasional transportasi. Menurutnya, kualitas layanan yang baik berbanding lurus dengan disiplin pengemudi dalam menaati aturan lalu lintas.
“Keselamatan harus menjadi kebiasaan dalam bekerja. Hal ini kita dapatkan melalui upaya yang lengkap dari setiap pengemudi, seperti disiplin berlalu lintas, menghormati pengguna jalan, dan menjaga kondisi kendaraan,” ujar Doddy saat memberikan arahan di Depok, Jawa Barat, Selasa (28/7).
Senada dengan hal tersebut, CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menyebutkan bahwa keselamatan merupakan pondasi utama yang menjembatani hubungan antara mitra dan penumpang. Baginya, mitra pengemudi adalah ujung tombak mobilitas masyarakat yang sekaligus mengemban tanggung jawab sebagai penjaga kepatuhan di jalan raya.
“Mitra pengemudi adalah garda terdepan bagi mobilitas masyarakat. Semua mitra di sini bukan sekadar peserta pelatihan, tapi juga penjaga keselamatan dan kepatuhan berkendara untuk pengguna jalan lainnya,” ungkap Neneng.
Kehadiran fitur-fitur ini diharapkan mampu memberikan rasa aman lebih bagi masyarakat yang menggantungkan mobilitas harian mereka pada moda transportasi ojek online. Selain aspek teknologi, pelatihan tatap muka ini menjadi pengingat bagi ribuan mitra pengemudi untuk tetap konsisten menerapkan standar keamanan selama menjalankan orderan di lapangan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.