Rabu, 29 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

UEFA Ancam Boikot FIFA World Cup Terkait Rencana Investasi Swasta

UEFA Ancam Boikot FIFA World Cup Terkait Rencana Investasi Swasta
UEFA Ancam Boikot FIFA World Cup Terkait Rencana Investasi Swasta

ZURICH — Gejolak besar melanda sepak bola dunia setelah UEFA menyatakan kemarahan atas rencana FIFA untuk menjual sebagian kepemilikan komersial mereka kepada investor swasta. Organisasi sepak bola Eropa tersebut bahkan mulai mempertimbangkan opsi ekstrem: memboikot turnamen masa depan, termasuk FIFA World Cup.

Ketegangan memuncak pada Selasa (waktu setempat) tak lama setelah FIFA mengumumkan rencana pembentukan entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise. Perusahaan ini direncanakan mengelola operasional komersial dan penyelenggaraan ajang olahraga FIFA.

Untuk mendanai proyek ini, FIFA berencana menjual 20 persen saham minoritas dengan target penggalangan dana mencapai 4,2 miliar dolar AS dan valuasi ekuitas di angka 20 miliar dolar AS.

Rencana tersebut menempatkan Thrive Eternal, firma modal ventura yang didirikan Josh Kushner, sebagai pemimpin kelompok investor. FIFA menjanjikan bahwa jika kesepakatan ini terealisasi, setiap dari 211 asosiasi anggota akan menerima dana sebesar 20 juta dolar AS, dengan dana pengembangan tahunan yang terus meningkat hingga tahun 2038.

Reaksi Keras dan Ancaman Boikot

UEFA dengan tegas menentang langkah tersebut, menyebut bahwa FIFA telah melewati batas yang seharusnya tidak dilanggar oleh institusi pengelola sepak bola. Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa jiwa dan tata kelola sepak bola bukan aset yang bisa diperdagangkan, terutama dengan transparansi yang diragukan mengenai pihak-pihak yang akan mengambil keuntungan finansial.

Laporan dari berbagai media internasional mengindikasikan bahwa UEFA kini tengah menjadwalkan pertemuan darurat untuk membahas potensi aksi boikot. Langkah ini disinyalir mencakup ancaman untuk tidak berpartisipasi dalam FIFA World Cup maupun Club World Cup.

Kritikan juga datang dari Perdana Menteri Andy Burnham yang menekankan bahwa sepak bola bukan sekadar produk komersial, melainkan milik suporter yang memenuhi stadion setiap pekan.

Dampak dan Masa Depan Tata Kelola

Bagi industri sepak bola, situasi ini menciptakan ketidakpastian besar. FIFA World Cup, sebagai aset komersial paling berharga, mencatatkan pendapatan mencapai 15 miliar dolar AS pada edisi 2026, jauh melampaui raihan 7,57 miliar dolar AS pada siklus 2022. Upaya FIFA untuk memaksimalkan potensi komersial ini kini berbenturan dengan nilai-nilai tradisional yang dipegang oleh konfederasi Eropa.

Sementara itu, FIFA berargumen bahwa mereka akan tetap menjadi pemilik utama subsidiari tersebut dan mempertahankan kendali penuh atas regulasi maupun penjadwalan kompetisi. Rencana ini masih membutuhkan persetujuan dari mayoritas asosiasi anggota FIFA.

Di tengah isu ini, posisi Presiden FIFA Gianni Infantino menjadi sorotan, terutama mengenai perannya dalam struktur perusahaan baru tersebut, meski FIFA membantah adanya diskusi khusus mengenai jabatan eksekutif bagi Infantino di entitas baru tersebut.

Bagi pelaku industri dan jutaan penggemar, pertarungan ini bukan sekadar urusan dana pengembangan, melainkan penentu arah masa depan sepak bola sebagai olahraga rakyat atau entitas bisnis yang dikendalikan investor global.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda