LONDON — Rencana FIFA untuk melepas kepemilikan saham komersial ajang Piala Dunia memicu gelombang perlawanan keras dari UEFA. Federasi sepak bola Eropa tersebut saat ini tengah menggalang kekuatan di antara 55 asosiasi anggota untuk menggelar pertemuan darurat pekan ini guna membahas potensi boikot terhadap turnamen akbar tersebut sebagai bentuk protes.
Ketegangan ini bermula ketika FIFA mengumumkan niat mereka untuk membentuk entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Badan ini nantinya akan mengambil alih kendali operasi komersial dan ajang, termasuk hak siar, sponsor, hingga tiket untuk edisi Piala Dunia pria maupun wanita ke depannya.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
FIFA membidik pendanaan sebesar 4,2 miliar dolar AS dari investor luar dengan valuasi ekuitas mencapai 20 miliar dolar AS.
UEFA bereaksi tajam terhadap langkah Presiden FIFA, Gianni Infantino, tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa, UEFA menegaskan bahwa sepak bola bukanlah aset yang bisa diperdagangkan. “Ini melampaui batas yang seharusnya tidak boleh dilewati oleh institusi pengatur sepak bola.
Sepak bola bukan milik FIFA untuk dijual,” demikian bunyi pernyataan UEFA yang dikutip dari berbagai sumber, termasuk laporan ESPN dan Sky Sports.
Langkah FIFA melibatkan firma keuangan multinasional J.P. Morgan sebagai penasihat, sementara grup investor dipimpin oleh Thrive Eternal, sebuah dana yang didirikan oleh Joshua Kushner.
Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menjadi pemimpin dunia pertama yang secara terbuka mengecam rencana tersebut. Melalui platform X, ia menegaskan bahwa sepak bola adalah milik para penggemar, bukan milik investor.
Dampak Finansial vs Integritas Sepak Bola
FIFA berargumen bahwa proyek FFE bertujuan untuk mendemokratisasi sepak bola global. Mereka menjanjikan tambahan dana pembangunan bagi 211 asosiasi anggota, dengan angka yang terus meningkat hingga tahun 2038. Namun, UEFA menyoroti kurangnya transparansi mengenai siapa pihak yang sebenarnya diuntungkan secara finansial dari skema privat ini.
Ancaman boikot UEFA bukanlah kali pertama muncul dalam meja perundingan dengan FIFA. Sebelumnya, pada tahun 2021, FIFA sempat membatalkan proposal untuk menyelenggarakan Piala Dunia dua tahun sekali karena tekanan ancaman serupa dari UEFA. Kali ini, posisi UEFA terlihat semakin solid setelah menerima dukungan moral dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk klub, liga, dan pemerintah di Eropa.
Bagi ekosistem sepak bola global, kebijakan ini bisa mengubah wajah kompetisi secara permanen. Jika FIFA tetap memaksakan untuk melibatkan pihak luar dalam operasional turnamen yang menjadi pusat industri sepak bola, hal ini dikhawatirkan akan mengikis independensi badan pengatur olahraga tersebut.
Keputusan akhir mengenai rencana FFE ini sendiri masih membutuhkan persetujuan dari mayoritas anggota asosiasi FIFA.
FIFA menyatakan bahwa mereka akan tetap memegang kendali penuh atas tata kelola, kalender pertandingan, dan keputusan regulasi olahraga, terlepas dari masuknya investor minoritas.
Meski begitu, ketiadaan jadwal resmi untuk debat terbuka dan pengambilan keputusan menambah ketidakpastian di masa depan. Fokus dunia kini tertuju pada pertemuan virtual UEFA yang dijadwalkan akan berlangsung sebelum akhir minggu ini untuk menentukan langkah tegas selanjutnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.