Kamis, 30 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Harimau Sumatra terpantau ada di Pulau Burung Inderagiri Hilir

Harimau Sumatra terpantau ada di Pulau Burung Inderagiri Hilir
Harimau Sumatra terpantau ada di Pulau Burung Inderagiri Hilir

PEKANBARU — harimau Sumatra terpantau di Pulau Burung, Indragiri Hilir, setelah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau menemukan jejak kaki baru di Desa Sungai Danai, Kecamatan Pulau Burung. Temuan ini membuat tim turun lagi ke lapangan dengan kamera jebak dan drone untuk membaca pergerakan satwa liar tersebut.

Jejak yang diidentifikasi Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) itu memiliki ukuran telapak kaki sepanjang 14 centimeter dan lebar 13 cm. Dari titik itulah petugas mulai menata langkah pemantauan yang lebih rapat. Cepat. Karena ruang gerak satwa dan manusia sama-sama terbatas di kawasan itu.

Jejak baru, pemantauan diperketat

Kepala Balai Besar KSDA Riau Supartono mengatakan, tim menemukan jejak baru harimau Sumatra saat melakukan identifikasi di lokasi. Setelah itu, petugas memasang camera trap dan menerbangkan drone di sekitar area temuan untuk melihat arah gerak satwa dan memastikan titik yang perlu diawasi lebih ketat.

Menurut Supartono, langkah itu diambil untuk menindaklanjuti laporan adanya interaksi negatif antara manusia dan harimau Sumatra. Laporan yang masuk menyebut satwa itu masuk ke permukiman warga dan menerkam ternak pada Jumat 24/7. Informasi semacam ini biasanya jadi sinyal awal yang tidak boleh diabaikan. Soalnya, satu titik pertemuan bisa berubah jadi konflik yang lebih luas.

Data lapangan menjadi penting di sini. Jejak kaki 14 centimeter dan lebar 13 cm bukan sekadar angka teknis. Bagi petugas, ukuran itu membantu memperkuat identifikasi, membaca kemungkinan ukuran individu, dan menilai apakah jejak baru itu masih segar atau sudah tertinggal beberapa waktu. Dari sana, tim bisa menentukan langkah mitigasi berikutnya tanpa menebak-nebak.

Warga diminta waspada di kebun dan kandang ternak

BBKSDA Riau juga menurunkan tim WRU untuk pengecekan dan mitigasi di sekitar lokasi. Bersamaan dengan itu, petugas melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat serta perangkat desa. Arahnya jelas: warga diminta lebih waspada saat beraktivitas di kebun maupun di sekitar titik kemunculan satwa.

Dalam laporan pembanding ANTARA, Supartono juga menyarankan ternak sapi dan kambing dikandangkan agar tidak memancing harimau mendekat ke permukiman. Petugas bahkan mendorong pembuatan meriam spritus untuk menghalau kemunculan harimau supaya kembali ke habitatnya.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa respons di lapangan tidak berhenti pada pemantauan, tetapi juga pengamanan kebiasaan warga sehari-hari.

Bagi warga Pulau Burung, dampaknya terasa langsung. Aktivitas ke kebun tak bisa lagi dijalani seperti biasa, terutama ketika satwa besar terdeteksi tidak jauh dari permukiman. Ternak juga masuk daftar paling rawan. Sekali kandang dibiarkan terbuka, risikonya melonjak. Di titik seperti ini, batas antara hutan dan ruang hidup warga menjadi sangat tipis.

Kenapa pemantauan harimau Sumatra di Riau penting

Kasus ini juga menegaskan betapa pentingnya respons cepat saat ada laporan perjumpaan harimau Sumatra dengan manusia. BBKSDA tidak hanya mencari keberadaan satwa, tetapi juga menahan eskalasi konflik agar tidak meluas ke warga sekitar. Kamera jebak dan drone memberi dua sudut pandang sekaligus: jejak di tanah dan pergerakan dari udara.

Di lapangan, kombinasi itu membantu petugas membangun peta pergerakan yang lebih jelas. Dari satu jejak, tim bisa bergerak ke titik lain, lalu menghubungkan jalur yang mungkin dilalui satwa. Hasilnya bukan cuma soal menemukan harimau Sumatra, melainkan juga mencegah pertemuan langsung yang berisiko bagi manusia maupun satwa itu sendiri.

Supartono menekankan bahwa harimau Sumatra adalah satwa kunci yang dilindungi undang-undang. Ia juga menegaskan kembali kebutuhan untuk menjaga situasi tetap terkendali di Pulau Burung, terutama setelah ada jejak baru dan laporan interaksi negatif.

“Untuk mengetahui pergerakan satwa liar tersebut, tim melakukan pemasangan ‘camera trap’ dan melakukan pemantauan melalui udara dengan menerbangkan ‘drone’ di sekitar lokasi,” katanya.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda