BENGKAYANG, JOURNALARTA.COM – Profil San San kini menarik perhatian karena kisahnya sebagai biduan asal Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, yang menjadikan panggung sebagai sumber nafkah utama untuk membantu keluarga. Ia membangun karier dari acara hajatan, pesta pernikahan, hiburan rakyat, hingga perayaan di kelenteng.
Perjalanan itu tidak singkat. Dari kampung halaman di Bengkayang, San San menempuh rute panjang ke berbagai daerah di Indonesia dan tetap bertahan di jalur musik yang penuh persaingan.
Profil San San, dari Bengkayang ke panggung antardaerah
San San tumbuh dan besar di Bengkayang. Sejak remaja, ia sudah akrab dengan dunia tarik suara dan perlahan diterima di banyak panggung lokal sebelum namanya merambah ke luar daerah.
Jenis acara yang ia isi juga beragam. Dari pesta keluarga, hajatan warga, sampai acara budaya, San San tampil dengan karakter vokal yang disesuaikan dengan permintaan penonton. Di titik ini, ia bukan hanya penyanyi panggung. Ia juga pekerja seni yang menjaga kepercayaan penyelenggara acara.
Dalam pengakuannya, tujuan utama bernyanyi bukan popularitas. Uang dari setiap panggung ia arahkan untuk menopang kehidupan keluarga di rumah.
“Yang saya kejar bukan terkenal, tetapi bagaimana saya bisa membantu orang tua dan keluarga di rumah. Selama masih ada panggung, saya akan terus bernyanyi,” ujar San San.
Kutipan itu memperlihatkan arah hidupnya yang tegas. Karier bagi San San bukan sekadar soal sorotan lampu, melainkan soal tanggung jawab yang dibawa pulang ke rumah.
Perjalanan kerja yang jauh dari kata mudah
Jalan yang ia lalui tidak selalu mulus. San San pernah harus tidur di dalam bus saat perjalanan antarkota, menahan lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam, lalu kembali tampil dengan kondisi seadanya. Ritme seperti itu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya selama bertahun-tahun.
Ia juga mencatat jejak tampil di sejumlah wilayah, mulai dari DKI Jakarta, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, hingga Bagan Siapiapi di Provinsi Riau. Bagi San San, perpindahan kota berarti peluang rezeki, bukan beban.
“Setiap kota yang saya datangi adalah rezeki. Lewat setiap lagu yang saya nyanyikan, saya selalu menitipkan doa agar keluarga di Bengkayang selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan,” tuturnya.
Di lapangan, kehidupan seperti itu kerap luput dari perhatian publik. Banyak penonton hanya melihat hasil akhirnya: suara merdu, kostum panggung, dan tepuk tangan. Padahal, di baliknya ada ongkos perjalanan, jadwal padat, dan tenaga yang terus dipaksa bertahan.
Itulah sebabnya perjalanan profil San San relevan untuk dibaca lebih luas. Ia menggambarkan wajah pekerja seni daerah yang hidup dari mobilitas, ketekunan, dan jaringan acara yang terus bergerak dari satu kota ke kota lain.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.