JAKARTA — Pemerintah Indonesia tengah menyatukan langkah untuk mengoptimalkan potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) yang melimpah di dalam negeri. Sebanyak 15 kementerian dan lembaga kini bersinergi untuk merumuskan kebijakan serta menguasai teknologi pengolahan mineral yang menjadi komponen vital industri masa depan tersebut.
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menegaskan, penguasaan teknologi menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar mengekspor bahan mentah. Selama ini, keterbatasan teknologi membuat proses hilirisasi mineral ikutan belum berjalan maksimal. Sinergi antarlembaga ini difokuskan untuk menciptakan regulasi yang mengikat, sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha di sektor pertambangan.
Pengembangan teknologi pengolahan mineral jarang ini melibatkan sejumlah institusi strategis, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), MIND ID, hingga PT Timah. Langkah ini diambil untuk memastikan Indonesia mampu mengolah ‘harta karun’ tersebut secara mandiri, yang nantinya diharapkan menjadi tulang punggung infrastruktur pendukung kendaraan listrik nasional.
Strategi Hilirisasi dan Pemangkasan Birokrasi
Tantangan utama yang dihadapi Indonesia saat ini bukan pada ketersediaan sumber daya alam, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia dan akses terhadap teknologi pemurnian tingkat tinggi. Pemerintah berkomitmen mengawal proses pemangkasan birokrasi agar iklim investasi menjadi lebih kondusif dan memberikan nilai tambah nyata bagi stabilitas ekonomi nasional.
Dudung menyoroti pentingnya mengubah pola pikir ekspor bahan baku. Dengan koordinasi yang lebih ketat antar-15 lembaga terkait, regulasi yang dirumuskan nantinya diharapkan mampu menjawab keraguan pelaku usaha serta mempercepat pembangunan industri hilir yang lebih kompleks.
Berdasarkan data Booklet Logam Tanah Jarang dari Kementerian ESDM tahun 2020, potensi mineral ini tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, hingga Sulawesi. Saat ini, terdapat total 28 lokasi mineralisasi LTJ di Indonesia.
Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 9 lokasi atau 30 persen yang telah dieksplorasi awal, sementara 19 lokasi sisanya belum tergarap optimal.
Potensi LTJ di Indonesia umumnya muncul sebagai produk turunan atau hasil ikutan dari pengolahan mineral lain seperti timah, emas, bauksit, dan nikel. Misalnya, monasit dan xenotime yang menjadi hasil ikutan dari pengolahan bijih timah di Bangka Belitung. Hingga kini, tercatat potensi sumber daya monasit mencapai 185.179 ton logam, sementara potensi xenotime mencapai 20.734 ton logam.
Langkah pemerintah untuk mengintegrasikan teknologi dan regulasi ini menjadi krusial bagi masa depan ekonomi Indonesia.
Jika eksplorasi dan teknologi pemurnian tingkat tinggi berhasil dikuasai, nilai tambah dari mineral-mineral tersebut tidak lagi hilang ke pasar luar negeri, melainkan terserap untuk memperkuat industri strategis dalam negeri, khususnya di sektor transisi energi dan kendaraan listrik.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.