Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa respons di lapangan tidak berhenti pada pemantauan, tetapi juga pengamanan kebiasaan warga sehari-hari.
Bagi warga Pulau Burung, dampaknya terasa langsung. Aktivitas ke kebun tak bisa lagi dijalani seperti biasa, terutama ketika satwa besar terdeteksi tidak jauh dari permukiman. Ternak juga masuk daftar paling rawan. Sekali kandang dibiarkan terbuka, risikonya melonjak. Di titik seperti ini, batas antara hutan dan ruang hidup warga menjadi sangat tipis.
Kenapa pemantauan harimau Sumatra di Riau penting
Kasus ini juga menegaskan betapa pentingnya respons cepat saat ada laporan perjumpaan harimau Sumatra dengan manusia. BBKSDA tidak hanya mencari keberadaan satwa, tetapi juga menahan eskalasi konflik agar tidak meluas ke warga sekitar. Kamera jebak dan drone memberi dua sudut pandang sekaligus: jejak di tanah dan pergerakan dari udara.
Di lapangan, kombinasi itu membantu petugas membangun peta pergerakan yang lebih jelas. Dari satu jejak, tim bisa bergerak ke titik lain, lalu menghubungkan jalur yang mungkin dilalui satwa. Hasilnya bukan cuma soal menemukan harimau Sumatra, melainkan juga mencegah pertemuan langsung yang berisiko bagi manusia maupun satwa itu sendiri.
Supartono menekankan bahwa harimau Sumatra adalah satwa kunci yang dilindungi undang-undang. Ia juga menegaskan kembali kebutuhan untuk menjaga situasi tetap terkendali di Pulau Burung, terutama setelah ada jejak baru dan laporan interaksi negatif.
“Untuk mengetahui pergerakan satwa liar tersebut, tim melakukan pemasangan ‘camera trap’ dan melakukan pemantauan melalui udara dengan menerbangkan ‘drone’ di sekitar lokasi,” katanya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.