Kamis, 30 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Kebakaran Hutan Meluas, Peringatan McGuire soal Iklim

Kebakaran Hutan Meluas, Peringatan McGuire soal Iklim
Kebakaran Hutan Meluas, Peringatan McGuire soal Iklim

JAKARTA — Kebakaran hutan yang meluas di Bordeaux dan Madrid kembali memukul perdebatan soal krisis iklim, sementara lebih dari 35.000 kebakaran hutan disebut tengah berkobar di berbagai belahan dunia. Bill McGuire, profesor emeritus geophysical and climate hazards di University College London, menilai skala bencana ini seharusnya menjadi peringatan keras yang memaksa tindakan, bukan kelengahan.

Dalam tulisannya di The Guardian, McGuire mengatakan bahwa andai kebakaran sebesar itu terjadi 20 atau bahkan 10 tahun lalu, dunia mungkin akan terguncang dan bergerak lebih cepat. Kini, katanya, respons publik dan politik sudah berubah. Api terus membesar. Rasa kaget justru menurun.

Kebakaran hutan dan kebiasaan dunia yang makin kebal

McGuire menggambarkan situasi ini seperti katak dalam panci air yang dipanaskan pelan-pelan. Dunia, menurut dia, makin terbiasa dengan dampak krisis iklim yang makin parah. Bukan hanya terhadap bencana yang muncul, tapi juga terhadap langkah-langkah yang semestinya ditempuh untuk menahan laju pemanasan global.

Frasa itu keras, tetapi masuk akal dalam konteks yang ia paparkan. Saat api menjalar dan udara panas mempersulit upaya pemadaman, perhatian publik kerap terpecah. Lalu bencana berikutnya datang. Siklusnya berulang. Dan alarm yang tadinya nyaring perlahan jadi latar belakang.

35.000 titik api dan sinyal politik yang justru mundur

McGuire menulis bahwa di saat lebih dari 35.000 wildfires membakar permukaan bumi, pemerintah dan blok perdagangan justru dengan sengaja menjauh dari aksi iklim. Ia tidak menyebut itu sebagai kelalaian kecil. Baginya, ini adalah arah yang keliru ketika bumi sedang “diputar mundur” ke episode-episode yang lebih panas dari masa lalu jauh.

Di sinilah pesan utama tulisan itu terasa tajam. Kebakaran hutan bukan lagi sekadar bencana musiman atau kasus terpisah di satu negara. Ketika jumlah titik api meluas dan suhu terus menekan banyak wilayah, pilihan politik ikut menentukan seberapa besar kerusakan yang akan ditanggung publik, petani, warga kota, sampai sistem kesehatan yang ikut menahan dampaknya.

Bagi pembaca, implikasinya sederhana tapi berat. Saat pemerintah menunda atau menjauh dari aksi iklim, risiko tidak berhenti di level wacana. Udara kotor, evakuasi, lahan terbakar, hingga gangguan aktivitas sehari-hari bergerak jadi beban yang lebih dekat ke kehidupan orang banyak.

Di Eropa, kebakaran yang mendekati Bordeaux dan Madrid sudah menunjukkan betapa cepat api bisa mengubah rutinitas, perjalanan, dan rasa aman warga.

Seruan lama yang kembali terdengar lebih keras

McGuire mengingat bahwa lima tahun lalu ia pernah menulis surat terbuka yang meminta ilmuwan iklim bersuara melawan bahan bakar fosil. Kali ini, nada tulisannya lebih mendesak. Ia menilai momen seperti sekarang justru menegaskan bahwa para ilmuwan tidak bisa diam ketika pemerintah mundur.

Ia juga menempatkan isu ini dalam kerangka yang lebih luas: bumi sedang terus memutar iklimnya sehingga menyerupai episode yang lebih panas dari masa silam. Di tengah kondisi itu, kebakaran hutan menjadi wajah paling kasatmata dari krisis yang sebenarnya sudah berlangsung lama. Tidak lagi abstrak. Tidak lagi jauh.

McGuire adalah penulis The Fate of the World: a History and Future of the Climate Crisis. Dalam tulisan terbarunya di The Guardian, ia menutup argumennya dengan satu garis tegas: dunia tidak sedang kekurangan tanda bahaya, melainkan kekurangan keberanian untuk meresponsnya saat api masih menyala di Bordeaux, Madrid, dan ribuan titik lain yang menyebar di seluruh permukaan bumi.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda