JAKARTA — Pasar keuangan domestik menutup perdagangan Rabu (29/7/2026) dengan hasil beragam di tengah sentimen global yang memburuk. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah dengan koreksi 39,20 poin atau 0,64 persen ke level 6.091,39.
Pokok Peristiwa
Total nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp22,86 triliun dengan volume 38,53 miliar saham. Tekanan jual mendominasi pasar, di mana 468 saham terkoreksi sementara hanya 177 saham yang mampu mencatatkan penguatan. Seluruh sektor indeks berada di zona merah, dengan sektor properti memimpin pelemahan sebesar 4,54 persen.
Berbeda dengan bursa saham, nilai tukar rupiah justru menunjukkan ketahanan. Mata uang Garuda berhasil ditutup menguat 0,06 persen ke posisi Rp18.045 per dolar Amerika Serikat (AS), memutus tren pelemahan selama empat hari berturut-turut meskipun sempat menyentuh level psikologis Rp18.100 pada pagi hari.
Tekanan pasar global dipicu oleh keputusan Federal Reserve (The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan ini dinilai pasar tidak cukup kuat untuk meredam inflasi, sehingga memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor 10 tahun naik 7 basis poin menembus 4,67 persen, sedangkan tenor 30 tahun melonjak 10 basis poin ke posisi di atas 5,2 persen.
Konteks
Wall Street merespons kebijakan tersebut dengan koreksi tajam. Dow Jones Industrial Average anjlok 1.153,18 poin atau 2,19 persen ke level 51.594,14. Fenomena ini menjadi penurunan harian terbesar bagi Dow Jones sejak April 2025. Indeks teknologi Nasdaq juga tertekan, mencatatkan koreksi lebih dari 10 persen dari rekor tertingginya.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen komite untuk bertindak jika diperlukan, namun pasar obligasi tetap meragukan efektivitas retorika tersebut. Pendiri DoubleLine Capital, Jeffrey Gundlach, dalam wawancara dengan CNBC menyebut pasar obligasi memberikan pesan tegas kepada bank sentral untuk mulai bertindak jika memang serius ingin mengembalikan inflasi ke angka 2 persen.
Dampak dan Langkah Berikutnya
Sentimen negatif kian diperparah oleh situasi geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan merespons keras serangan terhadap pasukan AS di wilayah tersebut. Eskalasi konflik ini mendorong harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6 persen hingga ditutup pada US$84,46 per barel.
Investor kini harus mewaspadai volatilitas pasar yang kemungkinan berlanjut. Kombinasi antara kebijakan suku bunga The Fed yang dipandang belum cukup agresif dalam menangani inflasi, kenaikan harga minyak, dan memanasnya konflik Timur Tengah diproyeksikan memberikan beban tambahan bagi pasar keuangan Indonesia pada perdagangan berikutnya.
Selain faktor makro, saham-saham sektor teknologi khususnya sub-sektor semikonduktor juga tengah menghadapi tekanan jual yang konsisten. Investasi besar-besaran perusahaan di bidang kecerdasan buatan (AI) mulai memicu kekhawatiran investor mengenai imbal hasil investasi, diperparah dengan persaingan ketat dari China yang menekan kinerja saham seperti Micron Technology dan AMD.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.