Jumat, 31 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Pameran Kesepian di Melbourne Ajak Pengunjung Merasa Tidak Sendirian

Pameran kesepian di ACCA Melbourne menampilkan karya seni kontemporer
Pameran kesepian di ACCA Melbourne merangkai karya seni tentang rasa sepi, internet, dan hidup yang serba terhubung. (Ilustrasi: AI)

Di layar itu muncul kalimat seperti “are my heart palpitations from drinking too many fizzy drinks?”. Adegan sederhana. Tapi mengganggu. Karya ini menempelkan kesepian pada kebiasaan modern yang paling akrab: tidur dengan ponsel atau laptop, lalu tenggelam di dalamnya.

Mattes menyebut meme lahir dari momen politik atau sosial tertentu, lalu berubah jadi semacam cara kolektif untuk melihat perasaan dan dunia. “And it kind of allows us to cope a little bit,” ujarnya. Di pameran ini, internet bukan cuma sumber gangguan. Ia juga ruang tempat rasa sepi dibagi bersama, meski bentuknya sering pecah-pecah.

Dampaknya terasa dekat dengan publik. Pameran semacam ini memberi bahasa visual bagi orang yang selama ini sulit menyebutkan rasa yang mereka alami. Saat kesepian masih sering dibungkus malu, ruang seni justru menawarkan jarak aman untuk mengakuinya tanpa harus menjelaskannya secara klinis. Itu penting, sebab banyak orang sekarang hidup dalam koneksi terus-menerus, tapi tetap merasa terputus.

Lucy Liu, studio yang sunyi, dan benda-benda temuan

Rasa sendiri juga muncul dari proses berkarya itu sendiri. Lucy Liu, yang dikenal sebagai aktris Hollywood sekaligus seniman visual, tampil lewat tiga lukisan dari seri Shunga yang dibuat pada 2006-2008. Karya-karya itu menyorot tarik-ulur antara kehidupan privat dan publik.

Russell-Cooke mengatakan dirinya dan Liu sempat berbicara tentang kerja artistik yang dalam dan reflektif. Menurut dia, proses seperti itu “only something you can do, and that’s inherently lonely”. Ia juga menyinggung bahwa seniman sering mengurung diri di studio untuk membuat karya.

Dalam konteks Liu, lapisan itu makin kompleks karena ia lama memamerkan karya dengan nama Tionghoa dan relatif anonim, sementara di waktu yang sama ia tampil di televisi dan film yang ditonton banyak orang di seluruh dunia.

Patrick Pound, seniman dan kolektor yang lahir di Aotearoa/New Zealand dan kini berbasis di Melbourne, membawa sisi lain dari kesepian ke ruang pamer.

Ia terbiasa bekerja sendirian, menyisir dunia nyata dan dunia digital untuk mencari benda-benda yang kemudian masuk ke instalasi found objects miliknya. “Art itself, it’s often a very solitary pursuit. If it is a game and a puzzle, it’s a game of solitaire,” katanya.

Lewat The museum of loneliness, Pound menata koleksi benda di lantai galeri dalam bentuk oval. Yang tersisa bukan hanya objek, tetapi juga pertanyaan tentang siapa pemilik benda itu sebelumnya, mengapa foto wajahnya dipotong, atau apakah sebuah benda pernah jadi saksi luka kecil yang tak tercatat.

Pound mengakui kesepian bukan salah satu dari 130 kategori yang biasa ia kumpulkan, tapi justru itu yang membuatnya tertarik.

Ia pun bertanya, “How do you find objects a”

Pertanyaan itu belum selesai di bahan sumber yang tersedia, tetapi pamerannya sudah berjalan di ACCA. Dan selama ruang itu masih dibuka, Pao Pao tetap berenang, hot dog tetap mencari pasangan, dan kesepian terus dipindahkan dari perasaan sunyi di kepala menjadi benda-benda yang bisa dilihat banyak orang.

Halaman:123Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda