Jumat, 31 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

UEFA dan Concacaf Boikot Piala Dunia Akibat Rencana Jual Saham FIFA

UEFA dan Concacaf Boikot Piala Dunia Akibat Rencana Jual Saham FIFA
UEFA dan Concacaf Boikot Piala Dunia Akibat Rencana Jual Saham FIFA

ZURICH — Sepak bola dunia tengah diguncang krisis besar setelah UEFA secara resmi menyatakan akan memboikot seluruh kompetisi di bawah naungan FIFA, termasuk Piala Dunia. Keputusan drastis ini diambil sebagai bentuk penolakan keras terhadap rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menjual saham Piala Dunia kepada kelompok ekuitas swasta.

Situasi semakin memanas setelah Concacaf, badan sepak bola untuk Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, mengikuti langkah serupa. Penolakan ini membatalkan dukungan bagi proposal yang diusulkan Infantino untuk mencari pendanaan sebesar $20 miliar dengan imbalan pengaruh atas masa depan turnamen, termasuk hak siar dan kesepakatan komersial selama 12 tahun.

UEFA, yang beranggotakan 55 negara, menegaskan bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam kompetisi FIFA selama rencana tersebut belum dibatalkan. Dalam pernyataan resminya, UEFA menyatakan Piala Dunia adalah milik sepak bola dan tidak untuk dijual. Mereka menganggap langkah Infantino sebagai kegagalan kepemimpinan yang mendalam serta pengabaian tugas FIFA sebagai pengelola sepak bola dunia.

Dominasi Penolakan Meluas ke Asia

Gelombang resistensi tidak berhenti di Eropa dan Amerika. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga menunjukkan sinyal keretakan hubungan dengan Infantino. Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, menyatakan bahwa tindakan sepihak FIFA berisiko merusak fondasi sepak bola kontinental. Sebagai sekutu lama, pernyataan Sheikh Salman menjadi pukulan telak bagi legitimasi Infantino.

Proposal kontroversial ini mencakup penawaran pembayaran senilai lebih dari $80 juta kepada setiap dari 211 anggota asosiasi FIFA hingga tahun 2037. Infantino awalnya menetapkan batas waktu pada 19 September agar anggota menerima rencana tersebut.

Namun, Concacaf menyoroti kurangnya proses yang semestinya, tenggat waktu yang terlalu singkat, serta minimnya tinjauan oleh badan tata kelola FIFA yang relevan.

Ancaman bagi Stabilitas Kepemimpinan FIFA

Langkah finansial berisiko tinggi ini kini mengancam posisi Infantino yang sebelumnya tampak aman selama 11 tahun kepresidenannya.

Dengan meningkatnya kemarahan dari tiga dari enam badan konfederasi benua, kursi kekuasaan FIFA berada dalam bahaya jelang pemilihan presiden yang dijadwalkan Maret mendatang di Rabat, Maroko. FIFA telah menetapkan tenggat waktu 18 November bagi kandidat untuk mendeklarasikan pencalonan diri.

Bagi industri sepak bola secara luas, boikot ini berpotensi menjadikan turnamen seperti Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil sebagai alat politik. Ujian pertama dari sikap keras ini akan terjadi pada September mendatang, saat Polandia dijadwalkan menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita U-20.

Belum ada kepastian apakah turnamen tersebut akan tetap berjalan atau akan terhenti akibat aksi boikot yang terus meluas ini.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda