JAKARTA — Buah matoa menjadi buah khas Papua yang makin mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Di balik rasa manisnya yang sering disebut mirip kelengkeng dan rambutan, buah ini menyimpan vitamin dan antioksidan yang membuatnya menarik dibahas dari sisi kesehatan.
Buah matoa bukan cuma soal rasa. Dari bahan sumber yang dihimpun, buah ini mengandung vitamin C, vitamin E, flavonoid, polifenol, tanin, hingga saponin. Kombinasi itu membuat buah matoa kerap dikaitkan dengan dukungan terhadap daya tahan tubuh dan perlindungan sel dari radikal bebas.
Buah matoa dan kaitannya dengan imun tubuh
Khasiat buah matoa yang paling dikenal adalah membantu menjaga daya tahan tubuh. Vitamin C berperan dalam mendukung fungsi sel imun, sedangkan antioksidan membantu melindungi sel kekebalan tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Farmasi Sains dan Praktis tahun 2021 menunjukkan bahwa buah matoa mengandung vitamin A, C, E, flavonoid, dan senyawa fenolik yang memberikan aktivitas antioksidan cukup tinggi. Kandungan ini berpotensi mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh.
Bahan sumber juga menyebut Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) mencatat kandungan vitamin C pada matoa lebih tinggi dibanding jeruk. Ini jadi salah satu alasan buah ini sering dilihat sebagai pilihan menarik saat orang mencari asupan yang membantu menjaga imun tubuh.
Antioksidan, peradangan, dan perlindungan sel
Setiap hari tubuh bisa terpapar radikal bebas dari polusi udara, asap rokok, paparan sinar ultraviolet, maupun proses metabolisme alami. Jika jumlahnya berlebihan, radikal bebas dapat memicu stres oksidatif dan berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis seperti kanker.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa ekstrak buah matoa memiliki aktivitas antioksidan yang kuat berkat kandungan flavonoid, tanin, dan senyawa fenolik. Senyawa itu bekerja dengan menangkap radikal bebas sehingga membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan.
Penelitian dalam jurnal Farmasimed pada tahun 2022 juga melaporkan bahwa buah matoa menunjukkan aktivitas antiinflamasi. Efek tersebut diduga berasal dari kandungan flavonoid, tanin, alkaloid, dan terpenoid yang mampu menghambat pembentukan senyawa pemicu peradangan.
Peradangan memang bagian alami saat tubuh melawan infeksi atau memperbaiki jaringan. Masalahnya, kalau berlangsung lama, peradangan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit. Di titik ini, kandungan bioaktif matoa menjadi relevan sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Manfaat buah matoa untuk jantung, mata, dan kulit
Jantung memerlukan perlindungan dari stres oksidatif agar fungsi pembuluh darah tetap terjaga. Buah matoa mengandung flavonoid dan polifenol yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan, dan berbagai penelitian menunjukkan kedua senyawa itu dapat membantu melindungi sel dan jaringan pembuluh darah dari kerusakan akibat radikal bebas.
Meski begitu, bahan sumber menegaskan belum ada penelitian klinis yang secara khusus membuktikan konsumsi buah matoa dapat menurunkan risiko penyakit jantung pada manusia. Jadi, posisinya masih sebatas potensi dukungan, bukan pengganti langkah medis.
Untuk mata, buah matoa mengandung vitamin C dan vitamin E yang berperan sebagai antioksidan dan membantu melindungi jaringan mata dari kerusakan akibat radikal bebas. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients tahun 2022 menyebutkan bahwa kedua vitamin itu berkontribusi dalam menjaga kesehatan mata dengan mengurangi kerusakan oksidatif pada jaringan mata.
Kulit juga mendapat sorotan. Paparan sinar matahari dan polusi bisa mempercepat penuaan kulit, dan vitamin C dalam matoa berperan dalam pembentukan kolagen, protein yang membantu menjaga elastisitas serta kekuatan kulit. Flavonoid dan polifenolnya ikut membantu melindungi sel kulit dari stres oksidatif.
Potensi buah matoa untuk gula darah
Satu lagi yang sering dibahas adalah flavonoid pada buah matoa. Senyawa bioaktif ini banyak diteliti karena berpotensi membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dengan menghambat kerja enzim α-glukosidase di usus.
Enzim itu memecah karbohidrat menjadi glukosa agar bisa diserap ke aliran darah. Saat aktivitasnya dihambat, penyerapan glukosa berlangsung lebih lambat sehingga lonjakan gula darah setelah makan dapat ditekan. Ini alasan matoa menarik diperhatikan dalam konteks pola makan sehari-hari, terutama karena bahan sumber menempatkannya sebagai buah dengan kandungan bioaktif yang beragam.
Buah matoa pun tidak hanya dikenal karena rasa manisnya. Di satu sisi, ia memberi sensasi buah tropis yang mudah disukai. Di sisi lain, ada rangkaian nutrisi yang membuatnya punya ruang dalam pembahasan soal kesehatan, dari imun tubuh, antioksidan, sampai perlindungan kulit dan mata.
Kalau tren konsumsi buah lokal terus naik, matoa berpeluang semakin sering muncul di meja makan, pasar tradisional, hingga toko buah di berbagai daerah. Dan di sana, perannya cukup jelas: menjadi salah satu buah yang dicari bukan cuma karena enak, tapi juga karena nilai gizinya yang makin diperhitungkan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.