Minggu, 2 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Uang Gen Z: Menabung Lebih Rajin, Belanja Lewat Digital

Uang Gen Z di tengah cash, ponsel, dan catatan anggaran
Uang Gen Z makin dipengaruhi pembayaran digital, media sosial, dan kebiasaan menabung yang dibentuk dari rumah. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — uang Gen Z terlihat dikelola dengan cara yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya.

Di Australia, data NAB Wellbeing Survey Q1 2026 menunjukkan anak muda usia 18-29 punya niat menabung paling tinggi, sementara laporan ASIC Moneysmart Gen Z Financial Behaviours Report 2026 menggambarkan bagaimana mereka juga hidup di tengah pembayaran digital, iklan online, dan arus saran finansial dari internet.

Gambaran itu tidak datang dari angka saja. Cerita para anak muda seperti Liam, Hugo, Bree, dan Evelynn menunjukkan bahwa kebiasaan finansial mereka dibentuk oleh rumah, sekolah, serta kebiasaan sehari-hari yang serba cepat memicu pengeluaran.

Uang Gen Z, tabungan tinggi tapi tekanan juga besar

Liam mengaku tidak pernah diajari cara mengatur uang. Saat menerima gaji pertama di usia 16 tahun, ia justru kesulitan mempertahankannya. Pengeluaran kecil berkembang jadi kebiasaan yang lebih besar, dari makan steak di restoran sampai belanja online, konsol gim, dan takeaway.

Ia tumbuh di rumah dengan kondisi keuangan yang tidak stabil. Uang jarang dibicarakan. Karena itu, saat gajinya cepat habis, Liam merasa sedang mengulang pola lama yang dulu ia saksikan sendiri. Selama enam bulan, ia sengaja mengubah kebiasaan. Hasilnya cukup terasa: hampir $10,000 berhasil ia simpan di bank.

Data NAB memperlihatkan dorongan menabung itu bukan kasus tunggal. Di kelompok Gen Z, 94 per cent perempuan mencoba menabung, sementara pada laki-laki angkanya 93 per cent. Keduanya berada di atas rata-rata nasional Australia yang sebesar 81 per cent.

Angka itu memberi sinyal penting. Generasi muda ini bukan enggan menyimpan uang. Mereka justru ingin menabung. Masalahnya, jalan menuju tabungan sering berhadapan dengan godaan yang sangat mudah diakses. Sekali sentuh. Langsung bayar.

Dari rumah, sekolah, sampai media sosial

Hugo, yang bekerja paruh waktu di supermarket, memakai sebagian besar gajinya untuk modifikasi mobil. Ia belajar soal uang lewat coba-coba. “I sort of just started saving after realising I had no money left,” katanya. Orang tuanya mendorong kebiasaan menabung, tetapi membiarkannya mengelola sendiri uangnya. Sekarang ia merasa lebih baik soal uang, meski masih cemas memikirkan masa depan.

Halaman:123Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda