Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Jokowi Uji “Kesaktian”, Pertaruhan Bawa PSI Melenggang ke Senayan

Jokowi Uji “Kesaktian”, Pertaruhan Bawa PSI Melenggang ke Senayan
Jokowi Uji “Kesaktian”, Pertaruhan Bawa PSI Melenggang ke Senayan

JAKARTA — Komitmen Jokowi membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjelang Pemilu 2029 bukan sekadar deklarasi politis biasa. Ini adalah taruhan besar tentang seberapa jauh pengaruhnya masih kuat setelah meninggalkan kursi presiden.

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno melihat keputusan Jokowi sebagai semacam “ujian kesaktian” politiknya. Jika PSI lolos ke parlemen pada 2029, itu akan membuktikan bahwa mantan presiden masih memiliki kekuatan menggerakkan mesin politik. Jika gagal, reputasinya akan terpukul.

“Ini pertaruhan politik yang ingin ditunjukkan kepada siapa pun, terutama kepada mereka yang menganggap Jokowi tidak lagi punya kekuatan setelah tidak menjadi presiden,” ujar Adi melalui kanal YouTube pribadinya pada Minggu (2/8).

Ukuran Pengaruh Politik Pasca-Presiden

Menurut Adi, langkah Jokowi itu adalah bentuk perjudian politik yang terukur. Sebab, performa PSI pada pemilihan umum lima tahun mendatang akan menjadi barometer tunggal untuk mengukur sejauh mana kepemimpinan politiknya masih beresonansi di masyarakat.

Kemampuan PSI menembus DPR bukan hanya soal kursi parlemen. Ada lebih dari itu. Kesuksesan partai yang didukung Jokowi akan menjadi indikator apakah mantan presiden masih memiliki jaringan, kredibilitas, dan daya tarik untuk menggerakkan basis pemilih.

“Kalau 2029 PSI lolos ke parlemen, pasti Jokowi akan diapresiasi. Itu akan menjadi bukti bahwa Jokowi memang sakti mandraguna,” kata Adi dengan nada yang sedikit mengandai-andaikan.

Mengukuhkan Legasi Kemenangan

Rekam jejak Jokowi memang mengesankan. Dari Wali Kota Solo hingga Gubernur DKI Jakarta, kemudian dua periode sebagai Presiden RI, dia selalu memenangkan setiap pertarungan politiknya. Angka-angka itu bukan sekadar statistik; mereka adalah fondasi citra Jokowi sebagai figur yang tidak terkalahkan dalam arena politik.

Namun, pasca-presiden, segalanya berubah. Dia tidak lagi memiliki kekuasaan eksekutif, mesin birokrasi, atau sumber daya negara untuk dimanfaatkan. Yang tersisa adalah kredibilitas personal dan jaringan politiknya sendiri.

Inilah mengapa keputusannya mendukung PSI dipandang berbeda. “Orang akan melihat Jokowi sebagai figur yang selalu berhasil memenangkan pertarungan politik. Itu yang sedang dipertaruhkan sekarang lewat PSI,” jelas Adi.

Jika PSI berhasil menembus Senayan dengan perolehan signifikan, Jokowi tidak hanya memperkuat pengaruhnya dalam ekosistem politik Indonesia, tetapi juga memvalidasi bahwa dirinya tetap relevan. Sebaliknya, kegagalan akan membuka pertanyaan besar tentang posisinya di masa depan.

Pertaruhan ini mencerminkan dinamika baru dalam perpolitikan Indonesia. Seorang mantan presiden harus membuktikan dirinya kembali, bukan melalui institusi negara, melainkan melalui kekuatan suara dan pengaruh murni. Pemilu 2029 akan menjadi jawaban atas pertanyaan itu.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda