JAKARTA — Partai Golkar memulai persiapan matang menghadapi Pemilu 2029 dengan strategi grassroots yang kuat: setiap kader diminta mengakar di komunitas terdekat, mulai dari tingkat RT hingga RW. Strategi ini disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji saat membuka acara Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar di kantor DPP, Slipi, Jakarta Barat, Senin (3/8).
Pokok Peristiwa
Sarmuji menekankan bahwa kontribusi kader tidak hanya dinilai dari jabatan politik, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat sekitarnya. “Kalau ada kader Golkar yang tidak punya manfaat di RT dan RW-nya, itu perlu kita panggil untuk segera kita upgrade,” ujarnya.
Logika di balik instruksi ini sederhana namun strategis. Golkar menganggap setiap kader sudah memiliki “teritori” alami — lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Daripada menunggu penugasan resmi dari partai, kader diminta langsung memberikan dampak positif di komunitas lokal.
“Kita minta kepada seluruh kader Partai Golkar untuk bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya di lingkungan terdekatnya, di RT-nya, di RW-nya,” kata Sarmuji.
Konteks
Pendekatan ini relevan mengingat basis Golkar akan sangat bergantung pada ketahanan dukungan akar rumput di masyarakat. Dengan pemisahan dapil belum ditetapkan sepenuhnya oleh regulasi, strategi lokal menjadi prioritas utama partai saat ini.
Berbeda dengan kader biasa, anggota DPR dari Golkar memiliki kewajiban spesifik: memelihara konstituennya di daerah pemilihan masing-masing. “Wajib hukumnya memelihara akar rumput. Wajib hukumnya memelihara konstituennya,” tegas Sarmuji, menggarisbawahi bahwa kekuatan partai bergantung pada kemampuan legislator untuk menjaga hubungan dengan pemilih lokal.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia memaparkan roadmap konkret persiapan pemilu. Partai menargetkan penyelesaian konsolidasi internal di seluruh tingkat kecamatan pada tahun 2026. “Tahun ini kita selesai semua di tingkat kecamatan,” kata Bahlil dalam acara yang sama.
Dampak dan Langkah Berikutnya
Langkah berikutnya adalah inventarisir daftar bakal calon legislatif (caleg) pada akhir 2026, sehingga pekerjaan-pekerjaan politik bisa dimulai sejak 2027. Bahlil melaporkan bahwa 70% kabupaten dan kota Golkar sudah menyelesaikan Musyawarah Daerah (Musda), dengan sisa 30% masih dalam proses. Timeline ini menunjukkan Golkar ingin memulai mobilisasi politik lebih awal dari siklus pemilu sebelumnya.
Kesadaran Golkar terhadap pentingnya penguatan akar rumput mencerminkan dinamika politik nasional yang kompetitif.
Dalam era di mana jumlah partai di legislatif terus berkurang akibat threshold electoral, partai besar seperti Golkar harus memastikan setiap celah geografis dan komunitas memiliki representasi kader yang aktif dan dipercaya masyarakat.
Absensi kader yang bermakna di level lokal bukan hanya soal organisasi, tetapi risiko kehilangan suara pemilih di pemilu mendatang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.