Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Hari Raya Karo, Hermawi Taslim Ikut Tradisi Andon Mangan Suku Tengger

Hermawi Taslim mengikuti tradisi Andon Mangan Suku Tengger bersama Supoyo di Desa Ngadas Probolinggo
Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem Hermawi Taslim (mengenakan penutup kepala khas Suku Tengger) mengikuti tradisi Andon Mangan bersama tokoh adat Suku Tengger Supoyo di Desa Ngadas, Probolinggo, Minggu (2/8). (Ilustrasi: AI)

Kabut tipis khas lereng Bromo menyambut kedatangan Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem, Hermawi Taslim, di Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Minggu (2/8). Langkah kakinya menuju kediaman salah satu tokoh adat setempat bukan sekadar perjalanan politik biasa.

Hari itu, ia membaur dalam sakralnya tradisi Andon Mangan yang menjadi puncak perayaan Hari Raya Karo bagi masyarakat Suku Tengger.

Hermawi tampil beda. Kepalanya terbalut udeng khas Tengger yang memberikan kesan akrab. Ia tidak datang sendirian. Sejumlah pengurus partai ikut mendampingi, di antaranya Sekretaris DPW Partai NasDem Jawa Timur, Aminurrakhman, serta Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Probolinggo, Dini Rahmania. Nama terakhir juga dikenal publik sebagai anggota Komisi VIII DPR RI.

Mereka melangkah masuk ke rumah Supoyo, tokoh adat sekaligus politikus NasDem yang disegani. Desa Ngadas sendiri menyajikan udara dingin menusuk tulang, kontras dengan hangatnya penyambutan di ruang tamu. Tanpa jarak, Hermawi duduk melingkar bersama warga. Percakapan mengalir deras. Mulai dari obrolan ringan hingga diskusi soal budaya lokal yang masih teguh dipegang masyarakat Tengger.

Aturan Unik di Meja Makan

Ritual Andon Mangan bukan sekadar ajang makan bersama. Ada tata krama yang harus ditaati siapa pun yang bertamu. Supoyo, dengan senyum ramah, menjelaskan filosofi di balik tradisi Unjung-Unjungan ini. Katanya, tamu punya kewajiban khusus saat piring saji sudah ada di depan mata.

“Saat Andon Mangan atau Unjung Unjungan, tamu wajib mencicipi menu makanan yang disediakan, atau paling tidak membasahi piring yang disediakan tuan rumah,” tutur Supoyo. Baginya, itu adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada pemilik rumah. Aturan ini bukan sekadar formalitas basa-basi, melainkan cerminan nilai sosial yang mengikat persaudaraan antar warga.

Hermawi menyimak dengan saksama. Ia tak canggung sedikit pun. Saat hidangan khas Tengger disajikan, ia langsung mencicipi satu per satu jajanan yang tersaji. Ada rasa hormat yang terpancar dalam setiap kunyahan. Baginya, berpartisipasi langsung dalam tradisi ini adalah cara paling jujur untuk mendekatkan diri dengan komunitas lokal.

Suasana di dalam rumah berubah menjadi ruang dialog yang cair. Tidak ada kaku-kaku protokoler partai. Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, pertemuan ini terasa sangat membumi. Kunjungan ke Desa Ngadas ini memang menjadi momentum bagi elit politik nasional untuk memahami denyut nadi masyarakat adat secara langsung.

Menghargai Akar Budaya

Hari Raya Karo bagi warga Tengger adalah perayaan besar. Selain ritual keagamaan, ia menjadi perekat sosial yang memperkuat silaturahmi antar keluarga dan tokoh masyarakat. Kehadiran Hermawi di tengah ritual ini bukan hanya soal urusan politik praktis, tetapi juga bentuk apresiasi nyata terhadap warisan budaya yang sudah turun-temurun dijaga warga lereng Bromo.

Desa Ngadas, yang letaknya tak jauh dari kawasan wisata Bromo, memang memiliki keunikan tersendiri. Masyarakatnya berhasil menyeimbangkan tuntutan zaman tanpa harus meninggalkan tradisi nenek moyang. Kehadiran politisi di sini menjadi bukti bahwa kearifan lokal tetap punya tempat di tengah dinamika nasional.

Setelah selesai dengan jamuan, rombongan kembali bersiap melanjutkan agenda. Namun, kesan dari meja makan tadi masih terasa kental. Ritual Andon Mangan yang sederhana justru menjadi jembatan komunikasi paling efektif. Tidak perlu kata-kata berbunga, cukup dengan menghargai piring yang disodorkan tuan rumah, hubungan emosional terbangun secara alami.

Kunjungan ini menjadi bukti bahwa mendekati masyarakat adat tidak selalu harus dengan pidato panjang lebar. Kadang, hanya dengan duduk bersama, mencicipi hidangan lokal, dan mengikuti aturan adat setempat, pesan keterbukaan sudah tersampaikan dengan sangat baik.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda