Minggu, 20 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

BAZNAS Salurkan 16.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Tangsel

BAZNAS menyalurkan air bersih ke warga terdampak kekeringan Keranggan, Tangerang Selatan, Sabtu 19 September 2026
Tim BAZNAS Tanggap Bencana bersama BPBD dan Satuan Bravo 90 Pasgat menyalurkan 16.000 liter air bersih untuk warga Kelurahan Keranggan, Tangerang Selatan, pada Sabtu 19 September 2026. (Ilustrasi). (Ilustrasi: AI)

TANGERANG SELATAN — Kekeringan yang melanda Kelurahan Keranggan membuat ratusan warga kehilangan akses air bersih. Sabtu lalu, BAZNAS Tanggap Bencana bergerak cepat mengirimkan 16.000 liter air bersih untuk membantu mereka bertahan.

Bantuan air disalurkan di dua lokasi berbeda. Di RT 02/RW 01, sebanyak 8.000 liter dialokasikan untuk 93 kepala keluarga (KK) atau 368 jiwa. Sementara di RT 09/RW 04, 8.000 liter lainnya mencukupi kebutuhan 86 KK atau 312 jiwa. Total warga yang tertolong mencapai 680 jiwa.

Aksi penyaluran bantuan ini melibatkan koordinasi tiga pihak: BAZNAS Tanggap Bencana, Satuan Bravo 90 Pasgat, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangerang Selatan. Mereka bekerja sama menghadirkan solusi cepat di tengah krisis air yang dialami warga.

Tidak hanya air, tim juga membawa paket logistik keluarga dan daging kaleng untuk 50 KK. Bantuan pangan ini dimaksudkan meringankan beban kebutuhan dasar warga selama periode kekeringan berlangsung.

Respons Terhadap Krisis Air

Kekeringan yang menimpa kawasan Setu, Tangerang Selatan, menciptakan kondisi darurat bagi ribuan penduduk. Sumur-sumur warga kering, dan akses ke sumber air bersih menjadi sangat terbatas. Situasi serupa juga terjadi di berbagai wilayah lain, seperti di Jawa Timur, di mana BPBD Kabupaten Probolinggo juga melakukan distribusi air 12.000 liter ke dua desa terdampak.

Perbedaan signifikan terlihat dalam skala respons. Di Tangerang Selatan, satu organisasi relawan (BAZNAS) langsung bergerak. Sementara di Probolinggo, respons datang dari lembaga pemerintah daerah. Kesamaannya adalah urgensi: kebutuhan air bersih adalah kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.

Dampak Langsung bagi Warga

Bagi 680 jiwa di Keranggan, kedatangan 16.000 liter air berarti kelangsungan hidup dalam dua hingga tiga hari ke depan. Itu waktu berharga untuk menemukan solusi jangka panjang atau menunggu hujan datang. Tanpa bantuan seperti ini, warga terpaksa menggunakan air dari sumber yang tidak terjamin kualitasnya, meningkatkan risiko penyakit.

Paket logistik dan daging kaleng untuk 50 KK juga mengurangi beban finansial keluarga. Saat air sulit ditemukan, harga air bersih di pasar gelap biasanya melambung. Bantuan pangan membebaskan uang terbatas mereka untuk kebutuhan lain—obat-obatan atau transportasi mencari air.

Tantangan Berkelanjutan

Meski bantuan sudah tiba, pertanyaan besar masih tergantung: kapan air akan kembali normal? Penyaluran satu kali tidak mengatasi akar masalah. Kekeringan adalah bencana bertahap yang memerlukan strategi jangka panjang.

Dari pengalaman daerah lain, pendekatan yang berhasil melibatkan tiga langkah: distribusi air darurat (sudah dilakukan), pemetaan sumber air alternatif, dan peningkatan kapasitas infrastruktur air lokal. BAZNAS dan BPBD perlu terus memantau kondisi warga di kedua RT tersebut untuk memastikan krisis tidak berlanjut ke fase yang lebih parah.

Sabtu, 19 September 2026, menjadi titik balik bagi 680 jiwa Keranggan. Air tiba, beban berkurang sejenak. Namun langkah berikutnya adalah memastikan situasi serupa tidak terulang di musim kekeringan mendatang.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 20 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online