Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Kasus panchayat Bihar Paksa Korban Jilat Ludah, FIR Masuk

Kasus panchayat Bihar di Begusarai memicu penyelidikan polisi
Kasus panchayat Bihar di Begusarai kini masuk tahap penyelidikan polisi setelah video viral. (Ilustrasi: AI)

BEGUSARAI — Kasus panchayat Bihar di sebuah desa dalam wilayah Balia, Begusarai, memicu kemarahan setelah seorang perempuan diduga dipaksa menjilat ludah di depan forum desa. Perempuan itu disebut sebagai ibu dua anak dan sebelumnya melaporkan dugaan pemerkosaan oleh seorang warga satu desa.

Peristiwa itu disebut terjadi pada 5 Juni, tetapi baru terbongkar setelah rekaman videonya beredar luas di media sosial pada Sabtu. Dalam video, perempuan itu terlihat memegang telinga, diminta berlutut, lalu menjilat ludah di tanah lapang di hadapan sejumlah warga. Tak satu pun dari mereka tampak menentang tindakan itu.

Video viral dan respons polisi

Begusarai DSP (HQ) Nikhil Kumar mengatakan pada Minggu bahwa FIR dalam perkara ini telah didaftarkan pada 31 Juli. Ia menambahkan bahwa polisi masih memeriksa kebenaran video tersebut.

“The veracity of the video is being examined. The rape accused is absconding. Police will take action against the guilty persons if the video is found to be genuine,” katanya.

Pernyataan itu menegaskan dua hal yang kini jadi fokus penyidikan: keaslian rekaman dan keberadaan terduga pelaku pemerkosaan yang disebut masih buron. Dari sisi warga, video justru membuat kasus yang semula tertutup jadi sulit diabaikan. Begitu rekaman menyebar, tekanan publik langsung bergeser ke aparat dan aparat desa yang berada di lokasi saat kejadian.

Pengakuan korban dan kronologi dugaan pemerkosaan

Dalam laporannya, Ruchi — nama disamarkan — menyebut tetangganya, Nitish, memerkosanya secara paksa di rumahnya pada malam 2 Juni dan 4 Juni. Ia mengatakan memilih diam pada awalnya, lalu memberi tahu suaminya lewat telepon setelah menahan beban itu sendiri.

Suaminya bekerja sebagai buruh di Tamil Nadu. Saat perempuan itu melaporkan dugaan pemerkosaan, beberapa warga melihat Nitish kabur dari rumahnya. Namun, alih-alih memosisikannya sebagai korban, warga setempat justru menuduhnya punya hubungan gelap.

Di titik itu, panchayat disebut mengambil peran yang kini dipersoalkan. Ruchi menuduh dirinya diperintah menjilat ludah di depan Sanjay Yadav, putra anggota dewan ward setempat, serta ibu Nitish. Nama-nama itu kini berada dalam sorotan karena muncul dalam laporan korban yang menjadi dasar penyidikan.

Dampak kasus panchayat Bihar bagi penegakan hukum

Kasus ini menggambarkan bagaimana perempuan yang melapor dugaan kekerasan seksual bisa menghadapi penghukuman sosial lebih dulu daripada perlindungan. Dalam satu rangkaian kejadian, korban disebut dipermalukan di ruang publik, sementara dugaan pelaku justru belum tersentuh.

Bagi warga, perkara seperti ini bukan sekadar video yang viral. Ini menyentuh kepercayaan pada polisi desa, panchayat, dan cara masyarakat merespons korban kekerasan seksual. Ketika laporan awal tidak segera diterima, ruang bagi intimidasi dan stigma ikut terbuka lebar.

Ruchi juga menuduh polisi awalnya menolak mendaftarkan FIR saat ia dan suaminya mendatangi kantor polisi setempat. Menurut pengakuannya, laporan baru masuk setelah kasus itu ramai di media sosial. Jika video dinyatakan asli, polisi mengatakan tindakan akan diambil terhadap pihak-pihak yang terlibat.

Untuk saat ini, sorotan masih tertuju pada satu pertanyaan yang paling mendesak: siapa saja yang berada di lapangan saat perempuan itu dipaksa berlutut, dan mengapa tak ada yang menghentikannya. Polisi belum menutup penyelidikan, sementara terduga pelaku pemerkosaan masih dicari.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda