Harga MinyaKita di pasar tradisional Surabaya kini melambung jauh melampaui aturan pemerintah. Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menemukan fakta pahit saat meninjau langsung Pasar Asemrowo, Senin kemarin.
Bukannya dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter, minyak goreng kemasan sederhana ini justru dilego pedagang di kisaran Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per liter.
Selisih harga yang mencapai ribuan rupiah tersebut tentu mencekik ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro. Bambang menilai kondisi ini adalah alarm bagi otoritas terkait untuk segera bergerak. Dia menunjuk Badan Pangan Nasional serta Satgas Pangan agar tidak tutup mata. Tugas mereka jelas, memastikan stok MinyaKita melimpah di pasar agar harga kembali normal ke angka yang ditetapkan negara.
Distribusi yang Tersumbat
Kelangkaan pasokan yang berujung pada lonjakan harga bukan masalah sepele. Ketika rakyat kecil harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan dapur paling dasar, daya beli mereka otomatis tergerus. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, selisih harga hingga Rp6.300 per liter bukanlah angka kecil. Ini masalah akses terhadap subsidi yang seharusnya tepat sasaran.
Bambang menegaskan bahwa pengawasan distribusi dari produsen hingga ke lapak pedagang harus diperketat. Jika pasokan lancar, pedagang tidak punya alasan untuk menaikkan harga di atas ketentuan. Selama ini, rantai distribusi yang panjang sering kali menjadi lubang kebocoran yang dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengambil keuntungan tidak wajar.
Stabilitas Bahan Pokok Lainnya
Berbeda dengan minyak goreng, kondisi harga komoditas pangan lainnya di Pasar Asemrowo terpantau masih dalam ambang batas wajar. Telur ayam misalnya, dijual seharga Rp23 ribu per kilogram, sementara daging ayam berada di angka Rp35 ribu hingga Rp37 ribu per kilogram. Untuk beras, harganya bertengger di kisaran Rp14.500 hingga Rp15.000 per kilogram.
Bambang mengakui harga beras sedikit melampaui target yang diharapkan, namun secara umum, kestabilan bahan pokok lainnya tetap terjaga. Kendati begitu, dia mengingatkan tim pengawas pangan tidak boleh lengah. Fluktuasi harga bahan pokok sangat rentan terhadap spekulasi pasar yang bisa terjadi kapan saja jika tidak dipantau dengan serius.
Infrastruktur yang Terbengkalai
Selain soal harga, kunjungan Bambang ke pasar tradisional tersebut mengungkap sisi gelap lain: kondisi fisik bangunan yang memprihatinkan. Lantai pasar yang rusak parah bersandingan dengan toilet yang tidak layak pakai. Lebih bahaya lagi, alat pemadam api ringan (APAR) di sana ternyata sudah kedaluwarsa sejak 2018. Padahal, pasar adalah area yang sangat rentan terhadap musibah kebakaran.
Melihat kondisi tersebut, Bambang tidak hanya bicara. Dia langsung mengambil langkah cepat dengan mengganti sejumlah APAR menggunakan dana pribadinya. Dia juga berkomitmen untuk membiayai perbaikan fasilitas toilet pasar agar pedagang dan pembeli bisa lebih nyaman beraktivitas.
Baginya, menunggu proses birokrasi yang panjang hanya akan memperburuk risiko bagi para pedagang yang mencari nafkah di sana setiap hari.
Dia menekankan bahwa pasar tradisional adalah pusat perputaran ekonomi bagi masyarakat akar rumput. Mengabaikan kelayakan fasilitas pasar sama saja dengan membiarkan ekonomi kelas bawah berjalan di atas ketidakpastian.
Harapannya, pemerintah daerah maupun pusat bisa segera berbenah, tidak hanya menindak pedagang yang nakal, tetapi juga menjamin kenyamanan infrastruktur tempat mereka berdagang agar geliat ekonomi tetap terjaga.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.