Selasa, 4 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Bahlil Soroti Usia Pemilih di Pemilu 2029: Kita Harus Koreksi Internal

Bahlil Lahadalia membuka Training of Trainers Akademi Partai Golkar di Jakarta, Senin 3 Agustus 2026
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia membuka kegiatan Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Senin (3/8). (. (Ilustrasi: AI)

JAKARTAKetua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia memperingatkan bahwa pemilu 2029 akan didominasi pemilih dari kelompok usia produktif, dan partai harus segera menyesuaikan diri atau akan tertinggal. Dia menekankan perlunya koreksi internal yang serius, terutama dalam aspek pengkaderan.

“Pemilu 2029, jumlah pemilih 17 sampai dengan 50 tahun itu 73%,” kata Bahlil saat membuka Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Senin (3/8).

Pesan Bahlil jelas: zaman telah berubah, dan pola-pola lama tidak lagi berhasil. Partai politik yang bergerak lambat akan tertinggal oleh yang gesit. Itu bukan soal siapa paling pintar atau kuat, melainkan siapa paling cepat beradaptasi.

“Kalau Golkar tidak mampu melakukan adaptasi, ini kita akan ketinggalan. Ini bukan persoalan pintar mengalahkan yang bodoh atau kuat mengalahkan yang lemah. Ini persoalannya adalah yang cepat mengalahkan yang lambat,” terangnya.

Pengkaderan adalah Jantung Partai

Menurut Bahlil, kunci pembenahan Golkar terletak pada penguatan proses pengkaderan. Dia mengatakan “roh” sebuah partai berada di sana—bukan pada kampanye dadakan sesaat sebelum pemilu dimulai.

“Kita partai harus melakukan koreksi internal. Dan salah satu yang harus kita lakukan menurut saya adalah proses pengkaderan. Rohnya di sini,” ujarnya.

Bahlil juga menyinggung perlunya meninggalkan metode kampanye dan strategi yang sudah usang. Dia mengingat-ingat cerita tentang outbond era Aburizal Bakrie, di mana peserta ditugaskan mengambil air karena tidak mampu membeli perlengkapan permainan lain. Taktik itu, menurut Bahlil, merupakan cara berbelit-belit untuk “membeli suara”—dan sudah tidak relevan.

“Itu pola yang nggak lagi relevan,” katanya dengan nada yang ringan namun tegas.

Adaptasi Harus Dibarengi Penguatan Kualitas

Perubahan strategi tidak cukup tanpa penguatan sumber daya manusia. Itulah mengapa Bahlil menganggap ToT Akademi Partai Golkar sangat penting. Dia bahkan meminta agar seluruh anggota DPR RI dari Golkar diwajibkan mengikuti program tersebut.

“Kepada semua anggota DPR RI, jadikan mereka peserta wajib. Supaya tahu mana kepentingan partai, mana kepentingan pribadi,” tuturnya.

Penekanannya pada perbedaan antara kepentingan partai dan kepentingan pribadi mencerminkan kekhawatiran Bahlil bahwa tanpa “filter” yang kuat, kader bisa mudah menyimpang. Setiap anggota perlu fondasi yang kokoh agar tahan terhadap dinamika politik yang bergejolak.

Nilai-nilai Kebangsaan Sebagai Pondasi

Bahlil menekankan bahwa Partai Golkar bukan sekadar organisasi politik, tetapi aset bangsa yang memikul harapan masyarakat. Kader harus dibekali nilai-nilai kebangsaan yang kuat.

“Partai Golkar ini adalah partai aset negara, harapan masyarakat. Kalau kita tidak diajarkan dan menanamkan sebuah pondasi nilai-nilai yang kuat terhadap tujuan berbangsa dan bernegara, bagaimana bisa kita lakukan itu?” tanyanya.

Bahlil mengakui pentingnya fondasi nilai tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya di kabinet. Dia telah menjabat sebagai Menteri Investasi dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menghadapi dinamika yang sangat besar dan memerlukan pegangan yang kuat.

“Pengalaman saya di anggota kabinet, sekalipun dinamikanya kayak puting beliung. Antara saya jadi Menteri Investasi dengan Menteri ESDM itu dinamikanya luar biasa sekali,” ucapnya.

Pesan Bahlil pada intinya adalah seruan untuk introspeksi menyeluruh. Partai Golkar harus meninggalkan cara lama, memperkuat kader melalui pengkaderan yang serius, dan memastikan setiap anggota memahami nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan. Jika tidak, maka saat pemilu 2029 tiba—ketika tiga-perempat pemilih adalah generasi muda—Golkar berisiko ditinggalkan oleh pesaing yang lebih adaptif.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda