Penekanannya pada perbedaan antara kepentingan partai dan kepentingan pribadi mencerminkan kekhawatiran Bahlil bahwa tanpa “filter” yang kuat, kader bisa mudah menyimpang. Setiap anggota perlu fondasi yang kokoh agar tahan terhadap dinamika politik yang bergejolak.
Nilai-nilai Kebangsaan Sebagai Pondasi
Bahlil menekankan bahwa Partai Golkar bukan sekadar organisasi politik, tetapi aset bangsa yang memikul harapan masyarakat. Kader harus dibekali nilai-nilai kebangsaan yang kuat.
“Partai Golkar ini adalah partai aset negara, harapan masyarakat. Kalau kita tidak diajarkan dan menanamkan sebuah pondasi nilai-nilai yang kuat terhadap tujuan berbangsa dan bernegara, bagaimana bisa kita lakukan itu?” tanyanya.
Bahlil mengakui pentingnya fondasi nilai tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya di kabinet. Dia telah menjabat sebagai Menteri Investasi dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menghadapi dinamika yang sangat besar dan memerlukan pegangan yang kuat.
“Pengalaman saya di anggota kabinet, sekalipun dinamikanya kayak puting beliung. Antara saya jadi Menteri Investasi dengan Menteri ESDM itu dinamikanya luar biasa sekali,” ucapnya.
Pesan Bahlil pada intinya adalah seruan untuk introspeksi menyeluruh. Partai Golkar harus meninggalkan cara lama, memperkuat kader melalui pengkaderan yang serius, dan memastikan setiap anggota memahami nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan. Jika tidak, maka saat pemilu 2029 tiba—ketika tiga-perempat pemilih adalah generasi muda—Golkar berisiko ditinggalkan oleh pesaing yang lebih adaptif.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.