DENPASAR — tingkat penghunian kamar hotel bintang di Bali naik pada Juni 2026, dan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mengaitkannya dengan kualitas wisatawan mancanegara yang datang ke Pulau Dewata. Kenaikan itu terlihat dari TPK hotel bintang yang mencapai 64,87 persen.
Angka tersebut naik 3,71 persen poin secara bulan ke bulan dan 0,21 persen poin secara tahun ke tahun. Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menyebut, meski jumlah kunjungan wisman belum pulih seperti tahun sebelumnya, pola menginap mereka menunjukkan tanda yang lebih baik.
Tingkat penghunian kamar hotel bintang dan sinyal perubahan pasar
Agus Gede menjelaskan bahwa perubahan itu paling terasa pada hotel bintang lima. Menurut dia, kelompok wisatawan yang datang sekarang cenderung memilih akomodasi dengan kelas lebih tinggi, dan itu ikut mendorong naiknya tingkat penghunian kamar hotel bintang.
“Wisatawan kita memang dibanding dengan tahun sebelumnya masih sedikit menurun kunjungannya, tapi TPK-nya menunjukkan sesuatu yang makin baik, TPK-nya meningkat kemudian peningkatannya terjadi di klasifikasi hotel bintang lima,” kata Agus Gede Hendrayana Hermawan.
Di klasifikasi hotel, TPK tertinggi memang datang dari bintang lima dengan 72,34 persen. Di bawahnya ada hotel bintang dua sebesar 63,96 persen, hotel bintang empat 60,95 persen, hotel bintang tiga 58,22 persen, dan hotel bintang satu 45,96 persen.
Data itu memberi petunjuk sederhana. Wisatawan yang datang ke Bali tidak hanya menghitung tujuan liburan, tapi juga kelas layanan yang mereka pilih. Ketika hotel berbintang lima paling sibuk, BPS Bali membaca ada daya beli dan preferensi menginap yang membaik.
“Itu kan menunjukkan kalau kita bilang daya kualitasnya, daya belinya ya membaik lah, bisa menginapnya sekarang pilihannya hotel bintang lima,” ujar Agus Gede.
Kunjungan wisman belum pulih seperti 2025
Meski begitu, BPS Bali belum melihat kunjungan wisman kembali menyamai kondisi 2025. Selama Juni 2026, jumlah kunjungan wisman tercatat 605.013 kunjungan. Angka itu naik 4,63 persen dibanding Mei 2026, tetapi turun 5,15 persen dibanding Juni 2025.
Di sini letak pentingnya. Kenaikan TPK tidak otomatis berarti jumlah wisatawan melonjak. Bali justru sedang melihat pergeseran kualitas kunjungan, bukan semata volume. Hotel bisa terisi lebih baik di segmen tertentu, sementara total kedatangan masih berada di bawah periode sebelumnya.
Berdasarkan paspor, Australia menjadi penyumbang kunjungan terbesar dengan 156.706 kunjungan, naik 7,60 persen. Setelah itu ada India dengan 55.586 kunjungan, turun 5,81 persen, lalu Tiongkok 41.731 kunjungan, naik 0,07 persen, Amerika Serikat 28.964 kunjungan, naik 20,32 persen, dan Inggris 25.441 kunjungan, naik 1,31 persen.
BPS Bali menyebut lima negara itu menyumbang 50 persen dari seluruh kunjungan wisman pada Juni 2026. Artinya, setengah pasar Bali pada bulan itu masih sangat bertumpu pada lima negara utama tersebut. Komposisi seperti ini penting dibaca pelaku usaha hotel, agen perjalanan, sampai pemerintah daerah yang menyusun strategi promosi.
Asia melemah, promosi bergeser ke Asia Pasifik
Jika dilihat dari kawasan, wisman dari Asia justru turun 2,22 persen. Catatan itu menjadi perhatian karena pasar Asia selama ini dekat secara jarak dan sering jadi tumpuan wisata Bali. Penurunan tersebut mendorong pemerintah daerah mencari cara lain untuk menguatkan pasar di kawasan yang masih punya potensi.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Bali Ida Ayu Indah Yustikarini mengatakan pihaknya terus melakukan promosi untuk menggaet wisatawan dari negara terdekat, khususnya Asia Pasifik. Strategi yang ditempuh juga disesuaikan dengan karakter pasar yang dibidik.
Selain lima negara unggulan tadi, Dispar Bali juga menyasar Korea Selatan dan Jepang lewat promosi media sosial bersama dinas pariwisata kabupaten/kota. Fokusnya bukan sekadar menambah jumlah kunjungan, melainkan menarik wisatawan yang memang mencari layanan tertentu di Bali.
“Sebenarnya yang kita tawarkan itu adalah wisata kesehatan fokusnya wellness tourism, jadi perawatan spa, kemudian yoga retreat, itu adalah hal-hal yang disukai seperti misalnya wisatawan Korea Selatan dan juga Jepang,” ujarnya.
Bagi industri hotel dan pelaku wisata, arah promosi seperti ini punya arti langsung. Bila pasar yang datang makin tertarik pada wellness tourism, hotel berbintang dan penyedia layanan pendukung punya peluang memaksimalkan okupansi dengan paket yang lebih sesuai kebutuhan tamu.
Di saat yang sama, pemerintah daerah juga mendapat sinyal bahwa persaingan tidak lagi hanya soal menarik jumlah wisatawan, tetapi juga soal kualitas kunjungan.
“Harapannya seperti itu, jadi mereka memilih, wisatawan yang datang ke Bali itu sudah bisa memilih untuk tinggal di hotel terklasifikasi atau hotel berbintang,” ucapnya.
Dengan komposisi pasar yang masih bergantung pada beberapa negara utama dan tren wisman Asia yang menurun, Bali tampaknya akan terus mengandalkan promosi yang lebih spesifik. BPS Bali sudah memberi penanda lewat angka TPK, dan Dispar Bali sekarang mencoba menjawabnya lewat pasar yang lebih terarah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.