NEW YORK — Gugatan TikTok atas tiga kasus remaja resmi diselesaikan menjelang persidangan, menurut pengacara para penggugat pada Senin, 3 Agustus. Kesepakatan itu menyangkut tiga perkara yang menuduh platform media sosial dirancang adiktif dan merusak kesehatan mental pengguna muda.
Menurut Joseph VanZandt, selaku pengacara para penggugat, syarat penyelesaian bersifat rahasia dan masih menunggu finalisasi perjanjian tertulis dengan TikTok. TikTok sendiri belum langsung memberi komentar atas permintaan yang masuk.
Gugatan TikTok jadi sorotan dari ribuan perkara serupa
Tiga kasus yang kini berakhir damai itu berasal dari kelompok perkara yang lebih besar di pengadilan negara bagian California. Seluruh gugatan itu dikonsolidasikan dan ditangani di hadapan Hakim Pengadilan Tinggi Los Angeles Carolyn Kuhl.
Kasus-kasus tersebut dipilih sebagai bellwether, atau persidangan uji, dari sekitar 3.300 gugatan yang menuduh platform media sosial membuat pengguna muda kecanduan dan mengalami dampak kesehatan mental. Taktik seperti ini lazim dipakai untuk membaca arah penilaian juri terhadap perkara-perkara lain yang mirip.
Dalam bahan perkara, tiga penggugat yang berdamai dengan TikTok diidentifikasi hanya lewat inisial karena masih di bawah umur. S.J. adalah gadis 15 tahun dari Illinois yang mengaku platform media sosial membuatnya mengalami self-harm, kecemasan, depresi, kecanduan, dan gangguan makan.
P.M.Y., remaja 15 tahun dari New Jersey, juga mengajukan klaim kecanduan, depresi, dan self-harm. Sementara K.D.B., 18 tahun dari Mississippi, mengatakan penggunaan platform yang berlebihan memicu kecemasan, depresi, kecanduan, self-harm, dan gangguan makan.
Sidang lain tetap berjalan
Meski tiga perkara itu selesai, klaim terhadap Meta Platforms, YouTube milik Google, dan Snapchat milik Snap Inc tetap berlanjut. Persidangan dijadwalkan berlangsung pada Oktober.
Para perusahaan itu membantah tuduhan yang diajukan. Mereka juga menyatakan telah mengambil langkah besar untuk menjaga remaja dan pengguna muda tetap aman di platform masing-masing.
Di ruang sidang, hasil bellwether sering dipantau ketat. Putusan awal bisa memberi gambaran bagaimana juri memandang tuduhan serupa, sekaligus membantu pengacara menaksir nilai potensial dari kasus-kasus yang belum selesai dan merancang negosiasi penyelesaian berikutnya.
Karena itu, langkah TikTok menyelesaikan tiga perkara ini bukan sekadar kabar administratif. Bagi perusahaan media sosial lain yang masih menghadapi gugatan, sinyalnya jelas: tekanan hukum belum mereda.
Jejak perkara di pengadilan Amerika
Perkara yang sama juga bergerak di jalur lain.
Dalam perkara pertama yang selesai di persidangan pada Maret, juri memutuskan ganti rugi sebesar $4.2 million terhadap Meta dan $1.8 million terhadap Google dalam kasus seorang perempuan yang mengatakan dirinya kecanduan platform media sosial sejak usia muda karena desain yang memancing perhatian.
TikTok dan Snap sudah lebih dulu menyelesaikan perkara itu sebelum sidang.
Gelombang gugatan tak berhenti di tingkat negara bagian California. Masih ada 2,600 perkara lain dengan tuduhan serupa yang diajukan individu, distrik sekolah, pemerintah daerah, dan negara bagian, dan semuanya masih bergulir di pengadilan federal California. Hampir setiap jaksa agung negara bagian juga menggugat perusahaan media sosial di pengadilan negara bagian masing-masing.
Bagi industri, penyelesaian tiga gugatan ini memperlihatkan bahwa jalur damai tetap dipilih di tengah risiko putusan juri yang tak mudah diprediksi. Bagi perusahaan, perkara-perkara semacam ini menyentuh pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana desain platform bisa dianggap ikut bertanggung jawab atas kebiasaan pakai dan kesehatan mental remaja.
VanZandt menyebut kesepakatan itu masih harus dituangkan ke dalam dokumen tertulis. Sampai tahap itu tuntas, detail angka maupun syarat lainnya belum dibuka ke publik.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.