Untuk pembaca pasar modal, sinyal seperti ini penting. Saat laba perusahaan kuat dan proyeksi pendapatan naik, modal cenderung mengalir ke saham-saham yang dianggap mampu menjaga pertumbuhan. Efeknya bisa cepat terasa ke indeks besar, lalu menjalar ke sektor lain. Hari itu, teknologi dan industri sama-sama mendapat angin segar.
Harga minyak turun, pasar baca peluang damai
Tekanan lain datang dari harga minyak yang turun tajam. Menurut Reuters, pernyataan pejabat Qatar dan AS meningkatkan harapan bahwa perang Iran bisa berakhir, sehingga arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz berpeluang kembali lancar.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan ada kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran dan Oman terkait upaya meningkatkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, kesepakatan akhir belum tercapai. Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz bisa tercapai paling cepat pada Selasa atau Rabu.
Di pasar energi, WTI turun 5,43 persen menjadi USD 75,98 per barel. Brent melemah 5,24 persen menjadi USD 79,38 per barel. Turunnya harga minyak ikut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang kemudian bergerak melemah.
Investor lalu menyesuaikan lagi ekspektasi mereka terhadap peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September menjadi lebih rendah. Sebagian besar analis menilai Ketua The Fed Kevin Warsh tidak menginginkan kenaikan suku bunga, dan data ekonomi berikutnya diperkirakan menjadi dasar bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Pasar kini menunggu data baru. Dan untuk saat ini, arah uang masih jelas: saham besar tetap diburu, minyak tertekan, dan Wall Street menguat tajam dengan dorongan yang datang dari laba emiten serta harapan meredanya ketegangan di Selat Hormuz.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.