AMMAN — Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) kini terseret dalam skandal serius setelah Pangeran Ali bin Al Hussein melayangkan tuduhan pemerasan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino. Pangeran Ali, yang menjabat sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, menyebut FIFA menahan uang hadiah turnamen sebagai alat penekan politik.
Persoalan ini bermula dari hadiah uang bagi tim nasional Yordania atas pencapaian mereka mencapai babak final Piala Arab FIFA tahun lalu. Menurut laporan media Yordania, pihak yang kalah di final tersebut seharusnya menerima pembayaran sebesar 4,2 juta dolar AS. Hingga kini, dana tersebut dilaporkan belum diterima oleh pihak federasi.
Pangeran Ali mengungkapkan melalui unggahan di media sosial bahwa ia sempat menerima tawaran terselubung saat gelaran Piala Dunia. Ia diminta memberikan dukungan terbuka kepada Infantino dengan imbalan bantuan keuangan bagi federasinya. Pangeran Ali dengan tegas menolak tawaran tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pemerasan yang mencederai nilai etika sepak bola.
Tekanan Terhadap Kepemimpinan FIFA
Tuduhan ini menambah beban berat bagi Gianni Infantino yang saat ini tengah menghadapi badai kritik dari para pemimpin sepak bola global. Posisi Infantino yang sebelumnya tampak aman untuk masa jabatan keempat hingga 2031 kini terancam setelah rencana penjualan saham keuntungan Piala Dunia di masa depan kepada investor yang dipimpin Joshua Kushner berujung kegagalan.
Reaksi keras datang dari berbagai konfederasi sepak bola. UEFA, badan sepak bola Eropa, dikabarkan tengah mencari kandidat lawan untuk menantang Infantino.
Selain itu, badan sepak bola Amerika Utara (CONCACAF) dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga mulai menyuarakan oposisi terhadap kebijakan kepemimpinan saat ini. Bahkan, UEFA mengancam akan melakukan boikot terhadap berbagai agenda, kegiatan, serta pertemuan resmi FIFA.
Situasi ini menciptakan ketidakpastian besar menjelang tenggat waktu pendaftaran kandidat presiden FIFA pada 18 November mendatang. Pemilihan bagi 211 federasi anggota dijadwalkan berlangsung di Rabat, Maroko, pada 18 Maret tahun depan. Pangeran Ali menegaskan bahwa masalah utama yang terjadi di FIFA saat ini berakar pada krisis kepemimpinan yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan yang dilayangkan oleh Pangeran Ali tersebut. Seiring dengan semakin kencangnya tuntutan transparansi di level elit sepak bola dunia, masa depan kepemimpinan Infantino kini berada di titik yang paling rentan selama 11 tahun terakhir.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.