Itu sebabnya MFA pun tidak banyak membantu. Perlindungan faktor ganda menjaga urutan masuk, bukan akses setelah sesi sah diberikan. Dalam serangan seperti ini, pelaku tidak memerlukan password atau kode kedua. Mereka cukup membawa pulang token yang muncul dari persetujuan valid korban. Teknik ini dikenal sebagai consent phishing.
Check Point membandingkan pola ini dengan layanan phishing-as-a-service Kali365, meski jalur yang dipakai berbeda. Kalau Kali365 mengejar cookie sesi atau token OAuth, kampanye ini memilih pendekatan yang lebih permanen: izin aplikasi yang dipakai secara ilegal.
Langkah yang paling masuk akal untuk dibatasi
Bagi organisasi, pesan terpentingnya jelas. Jangan menggantungkan pertahanan pada kemampuan karyawan mengenali situs palsu, karena pada kasus ini yang dibuka memang situs asli Microsoft. Yang perlu diawasi justru layar izin aplikasi. Satu klik di momen itu bisa membuka akses ke banyak layanan kerja sekaligus.
Check Point menyebut dua langkah paling sederhana. Pertama, meminta pengguna membaca setiap layar izin dan persetujuan yang mereka klik. Kedua, membatasi izin aplikasi yang bisa diminta akun pengguna melalui Microsoft Entra di level administrator sistem. Langkah kedua dipandang paling aman untuk setidaknya dipasang sejak awal.
Perusahaan juga perlu melihat ulang pelatihan keamanan internal. Selama ini banyak panduan menekankan URL, gembok, dan ejaan domain. Masalahnya, serangan ini tidak meniru pintu depan Microsoft. Ia memakai pintu depan yang asli, lalu masuk lewat persetujuan yang terasa biasa saja.
Check Point mengatakan kampanye itu sudah tidak aktif. Namun teknik dasarnya tidak hilang. Justru sebaliknya, metode ini disebut sudah dikomoditisasi pada 2026 menjadi layanan sewaan, sehingga ancamannya bisa muncul lagi dengan wajah yang berbeda. “It would be prudent to do the latter at a minimum,” tulis Check Point soal pembatasan consent di Microsoft Entra.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.