JAKARTA — Ekonomi RI kuartal II-2026 tumbuh 5,29 persen secara year-on-year, dan Badan Pusat Statistik menyebut dorongan terbesarnya masih datang dari konsumsi rumah tangga. Angka itu diumumkan BPS pada Rabu, 5 Agustus 2026, lewat telekonferensi pers.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menjelaskan kontribusi konsumsi rumah tangga tetap dominan di tengah perlambatan dibanding kuartal I-2026 yang tumbuh 5,61 persen. Jadi, mesin utama ekonomi belum bergeser. Masih sama.
Ekonomi RI kuartal II-2026 bertumpu pada belanja rumah tangga
BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2026 tumbuh 2,67 persen dengan distribusi 53,32 persen. Dari sini terlihat jelas, belanja masyarakat masih menjadi penahan utama laju ekonomi nasional ketika aktivitas ekonomi bergerak di periode pertengahan tahun.
“Konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar di triwulan II-2026, dengan tumbuh sebesar 2,67 persen,” kata Edy dalam telekonferensi pers, Rabu, 5 Agustus 2026. Pernyataan itu menegaskan bahwa kekuatan ekonomi domestik masih sangat bergantung pada permintaan dari dalam negeri.
Dalam data yang sama, BPS menyebut lonjakan konsumsi rumah tangga terdorong momentum libur hari raya dan hari besar keagamaan. Pola seperti ini lazim memicu pergerakan uang di banyak sektor, dari pengeluaran harian sampai mobilitas antarkota. Efeknya terasa cepat.
Restoran, hotel, transportasi, dan komunikasi ikut terangkat
Edy membeberkan, pertumbuhan konsumsi dari sektor restoran dan hotel naik 6,47 persen. Sementara itu, sektor transportasi dan komunikasi tumbuh 5,71 persen. Dua sektor ini memberi gambaran konkret tentang ke mana uang masyarakat mengalir saat periode libur dan perayaan tiba.
Restoran dan hotel biasanya menangkap belanja perjalanan, santap di luar rumah, serta kebutuhan menginap. Transportasi dan komunikasi ikut terdorong karena perpindahan orang dan kebutuhan konektivitas meningkat. Bagi pelaku usaha, angka ini penting karena memberi sinyal bahwa permintaan domestik masih punya tenaga.
Di level yang lebih luas, data ini juga menjelaskan kenapa ekonomi Indonesia belum sepenuhnya bertumpu pada satu sumber pertumbuhan saja. Ketika konsumsi rumah tangga bergerak, rantai lain ikut hidup. Pedagang, penyedia jasa, operator transportasi, hingga sektor perhotelan merasakan dampaknya lebih dulu.
Perlambatan tipis, tapi sinyal domestik masih kuat
Meski tumbuh positif, laju ekonomi pada kuartal II-2026 tercatat melambat dibanding kuartal sebelumnya. BPS menyebut pertumbuhan pada kuartal I-2026 berada di level 5,61 persen. Selisih itu memberi gambaran bahwa ritme ekonomi belum sepenuhnya stabil di sepanjang semester pertama 2026.
Buat pasar, pelaku usaha, dan pemerintah, poin pentingnya ada pada sumber pertumbuhan. Selama konsumsi rumah tangga tetap menyumbang porsi terbesar, kebijakan yang menjaga daya beli akan terus memegang peran. Bukan cuma soal angka pertumbuhan, tapi juga soal seberapa merata pergerakan ekonomi di tingkat bawah.
“Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 dibandingkan kuartal II-2025 atau secara year-on-year, tercatat tumbuh 5,29 persen (yoy),” ujar Edy. Dengan angka itu, BPS menempatkan konsumsi rumah tangga sebagai penopang yang paling konsisten, sementara sektor-sektor terkait perjalanan dan layanan ikut mengamplifikasi dorongan utamanya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.