Kamis, 6 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Film miliaran dolar Hollywood kembali ramai di 2026

Film miliaran dolar Hollywood kembali ramai di bioskop
Film miliaran dolar Hollywood kembali marak, didorong tiket premium dan penonton muda. (Ilustrasi: AI)

Data EntTelligence menunjukkan, pada 2025 lebih dari 16% tiket yang terjual untuk tayangan domestik berasal dari format premium tersebut. Angka itu naik dari 15% pada 2024 dan 13,8% pada 2023. Harga tiket premium juga ikut menanjak. Di New York City atau Los Angeles, harganya bisa lebih dari US$25, sementara rata-ratanya secara nasional sekitar US$18.22 per lembar. Itu naik 8% dari 2023.

Tiket reguler pun tidak murah lagi. Pada 2019, harga rata-rata tiket bioskop sedikit di atas US$9 menurut Cinema United. Kini, rata-ratanya mendekati US$13.50 menurut EntTelligence. Buat industri, selisih ini membantu mengangkat pendapatan. Buat penonton, bioskop jelas bukan lagi hiburan yang terasa sama murahnya seperti enam tahun lalu.

Soal pentingnya: bioskop masih punya daya tarik

Di titik ini, yang paling terasa bukan cuma jumlah film yang laku, tapi bagaimana Hollywood membagi ulang risiko. Tahun ini, daftar film miliaran dolar datang dari studio berbeda dan tidak hanya diisi sekuel atau waralaba. Ada biopik musikal dan ada pula adaptasi sinematik dari puisi berusia 2.700 tahun. Itu menandakan pasar masih memberi ruang untuk genre yang beragam.

Dari sisi bisnis, ini kabar penting bagi studio, pemilik jaringan bioskop, dan distributor di banyak negara, termasuk Indonesia yang ikut hidup dari denyut film global. Jika judul besar terus menarik penonton ke layar lebar, maka bioskop punya ruang napas lebih panjang.

Harga tiket bisa naik, format premium makin dipakai, dan studio pun lebih berani menaruh modal pada proyek yang sebelumnya dianggap berisiko.

Shawn Robbins melihat ukuran ini sebagai tanda tahun yang kuat bagi box office. Mike Polydoros, CEO cinema marketing firm PaperAirplane Media, bahkan menyebut, “The demise of the theatrical experience has once again been greatly exaggerated.” Menurut dia, dorongan besar datang dari Gen Z.

Gen Z dan pasar internasional jadi penentu

Polydoros mengatakan Gen Z menyumbang 49% penonton hari pembukaan Spider-Man: Brand New Day dan 30% penonton hari pembukaan The Odyssey. Rentang usia Gen Z, sekitar 14 sampai 29 tahun, juga membuat kelompok ini menjadi salah satu demografi paling aktif ke bioskop. Rentrak melaporkan, pada 2025 Gen Z menyumbang hampir 40% dari seluruh penonton film di Amerika Utara.

Dukungan juga datang dari luar Amerika Serikat. Dari empat film yang sudah melampaui US$1 miliar secara global tahun ini, lebih dari 50% pendapatannya berasal dari luar AS dan Kanada. Itu menegaskan betapa pentingnya pasar internasional untuk Hollywood, terutama saat studio mengejar angka besar dengan biaya yang juga tidak kecil.

Paul Dergarabedian, head of marketplace trends untuk Rentrak, mengatakan kepada CNBC bahwa belum pernah ada film yang dirilis domestik lalu menghasilkan lebih dari US$1 miliar hanya dari Amerika Utara. “Only ‘Star Wars: The Force Awakens’ has even come close, with $936.7 million,” ujarnya. Dan angka itu masih berdiri sebagai batas yang belum tersentuh sampai sekarang.

Di sisi lain, tahun ini box office domestik AS sedang bergerak menuju level yang lama hilang. Hingga Senin, total pendapatan tahunan sudah mencapai US$6.2 miliar, turun 11% dari 2019, tapi laju keseluruhannya masih mengarah ke tembus US$10 miliar untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.

Untuk Hollywood, satu angka besar lain masih diburu. Bukan US$1 miliar per film saja, melainkan pemulihan penuh yang benar-benar terasa di kas studio dan kursi bioskop.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda