Kamis, 6 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Julie Tétart dan Polemik Atlet Transgender di WNBA

Suasana lapangan basket profesional dengan ring dan jaring dalam arena
Polemik mengenai atlet transgender dalam liga WNBA terus memicu perdebatan di Amerika Serikat. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Perdebatan mengenai inklusivitas atlet transgender dalam liga bola basket wanita Amerika Serikat, WNBA, kini melebar hingga ke luar negeri. Nama pemain basket asal Prancis, Julie Tétart, terseret ke dalam pusaran isu politik panas setelah sebuah media olahraga Amerika, OutKick, mengangkat profilnya sebagai senjata untuk mengkritik kebijakan liga.

Pokok Peristiwa

Konflik ini bermula ketika guard Indiana Fever, Sophie Cunningham, secara terbuka menyatakan keinginannya untuk melindungi olahraga wanita.

Dalam pernyataannya kepada ESPN, ia menegaskan pentingnya menjaga privasi ruang ganti dan kompetisi agar tidak diikuti oleh individu yang terlahir sebagai laki-laki.

Komentar yang kemudian mendapat pujian dari Gedung Putih tersebut memicu reaksi berantai, termasuk debat mengenai posisi WNBA yang hingga kini belum memiliki aturan resmi terkait keikutsertaan atlet transgender.

Situasi semakin memanas setelah OutKick menghubungi Tétart, seorang wanita transgender berusia 34 tahun yang bermain untuk klub AS Monaco di kompetisi Ligue 2 Prancis.

Konteks

Meski Tétart mengaku terbuka jika dihubungi oleh tim WNBA, ia bersikap realistis dengan menyatakan bahwa dirinya sudah tidak lagi muda dan masih banyak pemain yang jauh lebih baik darinya.

Namun, jawaban tersebut justru digunakan oleh OutKick untuk menuding WNBA bersikap diskriminatif atau transphobic karena tidak merekrutnya.

Taktik ini menempatkan WNBA dalam posisi yang sangat sulit. Jika liga memilih untuk mengabaikan Tétart, mereka akan terus dituduh oleh kelompok konservatif bahwa dukungan mereka terhadap inklusivitas hanyalah formalitas semata.

Sebaliknya, jika liga mencoba merekrutnya, hal tersebut berpotensi memicu kritik lebih lanjut bahwa WNBA mengorbankan integritas olahraga wanita demi agenda politik tertentu.

Dampak dan Langkah Berikutnya

Di dalam liga sendiri, ketegangan mulai tampak nyata. Pelatih Minnesota Lynx, Cheryl Reeve, dan pelatih Golden State Valkyries, Natalie Nakase, tercatat sebagai beberapa sosok yang menentang posisi Cunningham.

Namun, narasi yang dibangun di media sosial—terutama setelah komentar lama Presiden Donald Trump mengenai potensi transisi atlet pria ke liga wanita viral kembali—membuat ruang diskusi menjadi semakin terpolarisasi.

Dampak dari manuver media ini nyata bagi WNBA. Liga kini harus menavigasi arus opini publik yang terpecah tajam.

Langkah apa pun yang diambil oleh pengelola liga, baik itu memperketat regulasi atau tetap membuka pintu bagi keberagaman, dipastikan akan dipantau secara ketat oleh pendukung maupun pengkritik, menjadikannya isu yang terus berkembang melampaui sekadar catatan statistik di lapangan basket.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda