WASHINGTON — minyak Iran kembali masuk ke perdebatan politik Amerika Serikat setelah anggota DPR dari Partai Republik, Mike Lawler, mendesak pemerintah AS menekan China karena dinilai memfasilitasi perdagangan minyak ilegal Teheran.
Dalam pernyataan yang disampaikan kepada Kailey Leinz di edisi larut malam program Bloomberg Balance of Power, Lawler mengatakan AS harus “hold the Chinese to account” atas peran itu. Ia bicara saat Presiden Donald Trump mendorong langkah ekonomi yang ia sebut sebagai “D-Day” terhadap Iran.
Tekanan ke China dan minyak Iran
Lawler berasal dari New York dan duduk di komite House Foreign Affairs serta Financial Services. Posisi itu membuat komentarnya relevan, karena kebijakan terhadap Iran tidak hanya menyentuh urusan luar negeri, tapi juga jalur keuangan dan perdagangan yang dipakai untuk menekan Teheran.
Fokus Lawler jelas. Ia menyorot China sebagai pihak yang perlu dimintai pertanggungjawaban karena ikut membuka ruang bagi perdagangan minyak Iran yang ia sebut ilegal. Di tengah dorongan Trump memperkeras tekanan ekonomi, sinyal dari Capitol Hill ini memperlihatkan bahwa isu minyak Iran belum hanya soal sanksi, tapi juga soal siapa yang membantu aliran uang tetap hidup.
Bagi pasar dan pembaca yang mengikuti arah kebijakan Washington, pesan ini penting. Jika tekanan ke China benar-benar diperbesar, efeknya bisa menjalar ke hubungan dagang, kebijakan energi, dan kalkulasi perusahaan yang selama ini bergantung pada stabilitas pasokan serta kepastian aturan.
Di level politik, Washington juga tampak ingin menunjukkan bahwa jalur pendanaan Iran tidak akan dibiarkan mengalir tanpa respons.
Utang AS disebut krisis
Dalam wawancara yang sama, Lawler tidak hanya bicara soal Iran. Ia juga menyebut utang AS senilai US$40 triliun sebagai sebuah “crisis”.
Menurut dia, Kongres membutuhkan solusi bipartisan untuk menangani beban itu. Pernyataan ini menempatkan dua tekanan besar di panggung yang sama: kebijakan luar negeri yang keras terhadap Iran dan problem fiskal domestik yang menurut Lawler tak bisa ditunda.
Pernyataan soal utang sebesar US$40 triliun itu memperlebar konteks pembicaraan. Artinya, Lawler melihat tantangan fiskal dan keamanan ekonomi sebagai satu rangkaian, bukan isu yang berdiri sendiri. Saat Washington mendorong tekanan baru ke Teheran, para anggota parlemen juga masih harus memikirkan ongkos politik dan fiskal dari kebijakan keras semacam itu.
Isyarat politik dari Capitol Hill
Yang membuat pernyataan ini menarik bukan hanya kritiknya ke China. Lawler berbicara ketika Trump sedang menguatkan pesan ekonomi terhadap Iran, sehingga komentar itu terdengar seperti dukungan politik terhadap garis keras Gedung Putih.
Di saat yang sama, penyebutan “bipartisan solution” untuk utang AS menunjukkan Lawler mencoba menempatkan dirinya pada dua medan sekaligus: tegas soal Iran, tapi tetap menuntut kerja sama lintas partai untuk urusan fiskal. Dua isu ini bisa bergerak paralel di Kongres. Dan, kalau nada seperti ini menguat, China berpotensi makin sering disebut sebagai titik tekan utama dalam urusan minyak Iran.
Bloomberg melaporkan Lawler menyampaikan pandangannya itu dalam percakapan dengan Kailey Leinz pada edisi larut malam Balance of Power, dengan tekanan ke China dan minyak Iran menjadi inti perdebatan yang ia dorong ke meja kebijakan AS.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.