JAKARTA — Dana Stroul mengatakan tekanan ekonomi Iran yang lebih keras akan bergantung pada kerja sama mitra Amerika Serikat, termasuk Uni Emirat Arab dan China. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara dengan Kailey Leinz di edisi larut program Bloomberg Balance of Power.
Stroul, Senior Fellow dan Director of Research di Washington Institute for Near East Policy, menilai langkah UEA untuk memutus hubungan ekonomi dengan Teheran bisa berdampak besar jika dijalankan penuh. Tapi ia juga mengingatkan, China punya alat untuk membalas tekanan tambahan dari AS.
UEA dinilai bisa ubah arah tekanan ekonomi Iran
Dalam pembicaraan itu, Stroul menempatkan UEA sebagai salah satu mitra yang paling menentukan. Sikap Abu Dhabi, menurut dia, bukan detail kecil. Jika hubungan ekonomi dengan Teheran benar-benar dipersempit, ruang gerak Iran bisa ikut menyempit.
Ia bahkan menyebut langkah itu bisa “extremely significant” bila diterapkan sepenuhnya. Ungkapan itu menunjukkan satu hal: tekanan ekonomi Iran tidak hanya soal keputusan Washington, tapi juga soal apakah mitra di kawasan bersedia ikut menutup celah yang selama ini masih terbuka.
Bagi pembaca, implikasinya jelas. Setiap upaya AS memperkeras tekanan terhadap Iran akan jauh lebih efektif bila jalur ekonomi dari negara ketiga ikut tertutup. Tanpa itu, tekanan cenderung berhenti di tingkat kebijakan, bukan di lapangan.
Soalnya, ekonomi lintas negara jarang bergerak sendirian. Satu keputusan dari UEA bisa mengubah banyak hal, dari arus perdagangan hingga ruang negosiasi. Dan di titik ini, pembicaraan soal Iran bukan sekadar retorika diplomatik. Ada biaya ekonomi yang nyata.
China pegang kartu balasan
Di sisi lain, Stroul memberi catatan keras soal China. Ia mengatakan Beijing memiliki alat untuk melakukan retaliasi terhadap tekanan tambahan dari AS. Kalimat itu penting karena menunjukkan risiko yang dihadapi Washington tidak hanya datang dari Iran, melainkan juga dari mitra dagang besar yang terdampak kebijakan tersebut.
Artinya, tekanan ekonomi Iran akan bergerak di antara dua arus besar. Di satu sisi, AS ingin memperketat tekanan. Di sisi lain, langkah itu butuh dukungan negara yang punya hubungan ekonomi aktif dengan Teheran. Kalau dukungan itu setengah hati, hasilnya pun tak akan maksimal.
Wawancara Stroul di Bloomberg itu memperlihatkan peta yang lebih rumit dari sekadar menekan Iran lewat sanksi. Ada jaringan kepentingan yang saling terkait, dan UEA serta China berada di posisi yang bisa menentukan seberapa jauh tekanan itu benar-benar terasa.
Bloomberg menayangkan pernyataan Stroul tersebut dalam edisi late edition Balance of Power bersama Kailey Leinz. Dari sana, fokus berikutnya bergeser ke satu pertanyaan yang belum terjawab: sejauh mana mitra-mitra AS itu bersedia ikut memperkeras tekanan, dan bagaimana China merespons bila tekanan tersebut benar-benar ditingkatkan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.