Jumat, 21 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Tekanan Trump ke Iran Bisa Dibatasi Bank China, Kata Lipsky

Tekanan Trump ke Iran dibatasi bank China
Josh Lipsky menilai tekanan Trump ke Iran bisa berhenti sebelum bank-bank China ikut tersentuh, menurut Bloomberg. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — tekanan Trump ke Iran disebut Josh Lipsky bisa mentok di titik yang paling sensitif: bank-bank China. Wakil Presiden Bidang Ekonomi Internasional di Atlantic Council itu menilai Beijing bertaruh Presiden Donald Trump ingin membuat “big show” soal tekanan ekonomi, tetapi tidak akan sampai menekan lembaga keuangan China.

Kalau skenario itu benar, arah kebijakan Washington ke Iran bisa terlihat keras di panggung, tapi berhati-hati di jalur yang menyentuh kepentingan finansial Beijing. Bagi pasar, jeda sekecil apa pun dalam langkah itu bisa dibaca sebagai sinyal bahwa Washington masih menghitung biaya ekonomi dan diplomatiknya.

Beijing membaca batas tekanan Washington

Lipsky menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan Kailey Leinz di edisi malam program Bloomberg Balance of Power. Intinya sederhana, tapi tajam: Beijing menilai Trump ingin menunjukkan kekuatan, bukan memancing benturan yang lebih luas dengan bank-bank China.

Frasa yang ia pakai, “big show”, memberi gambaran bahwa tekanan terhadap Iran bisa dijadikan pesan politik. Namun, dalam hitungan yang lebih dingin, ada batas yang mungkin tidak dilewati jika langkah itu berisiko menyeret sistem keuangan China ke dalam konflik yang lebih besar.

Pernyataan ini penting karena memperlihatkan bagaimana diplomasi ekonomi jarang berdiri sendiri. Satu langkah terhadap Iran bisa merembet ke hubungan dengan China, lalu memengaruhi sentimen investor, rantai perdagangan, dan ruang gerak bank-bank yang selama ini jadi simpul transaksi lintas negara.

Utang AS dan sabar investor diuji

Lipsky juga menyorot tekanan lain yang sedang dihadapi Amerika Serikat. Ia mengatakan AS sedang menguji kesabaran investor dengan cara yang belum terjadi dalam waktu lama, saat utang sudah melampaui $40 trillion.

Angka itu menambah lapis kekhawatiran di luar isu Iran. Pasar tidak hanya memantau arah kebijakan luar negeri, tapi juga kemampuan Washington menjaga kepercayaan saat beban utang terus membengkak.

Dalam situasi seperti ini, bahasa keras dari pemerintah bisa memberi efek cepat, tetapi pasar biasanya melihat lebih jauh: apakah kebijakan itu bisa bertahan dan berbiaya terukur atau justru membuka risiko baru.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda