Kamis, 6 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Kash Patel Bangun Kerja Sama FBI dengan China dan Rusia

Kash Patel Bangun Kerja Sama FBI dengan China dan Rusia
Kash Patel Bangun Kerja Sama FBI dengan China dan Rusia

WASHINGTON — Kash Patel mengubah arah kerja sama FBI dengan China dan Rusia dalam setahun terakhir. Kepala FBI itu membuka jalur baru dengan dua negara yang lama diposisikan sebagai rival Amerika Serikat untuk memburu kejahatan transnasional, dari fentanyl hingga penipuan siber.

Langkah ini langsung menarik perhatian komunitas kontraintelijen. Di satu sisi, FBI menyebut kerja sama itu dibatasi untuk kasus tertentu. Di sisi lain, kritik muncul karena pertukaran informasi dengan rezim otoriter selalu membawa risiko bocornya data keamanan domestik.

Kerja sama FBI dibatasi pada jenis kejahatan tertentu

Dalam wawancara eksklusif dengan Reuters, Patel menjelaskan bahwa relasi baru itu bersifat selektif. Ia menyebut mitra tersebut sebagai non-traditional partners dan menegaskan kerja sama hanya berlaku untuk jenis kejahatan lintas negara yang spesifik.

Fokusnya meliputi jaringan fentanyl, penipuan siber, eksploitasi seksual anak, dan jaringan pornografi anak berskala global. Menurut Patel, pertukaran informasi hanya dilakukan pada area yang timbal balik. Tidak semua kasus dibuka.

“Five Eyes will always be our most important intelligence relationship. No one is trying to replace that,” kata Patel. Ia menegaskan kemitraan baru ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan relasi intelijen lama dengan Kanada, Australia, Inggris, dan Selandia Baru.

Patel juga menyebut kerja sama itu berada di jalur yang berbeda dari dinas militer maupun intelijen tradisional. Baginya, penegakan hukum punya mandat yang lebih apolitis. “Unlike military and traditional intelligence agencies, we have a unique lane to drive this dynamic change with law enforcement, which is an apolitical mission,” ujarnya.

Operasi bersama dan pertukaran personel

Selama setahun terakhir, pola kerja sama itu sudah berjalan dalam bentuk pertukaran personel. Pejabat penegak hukum China datang ke Amerika Serikat, sementara agen FBI terbang ke China untuk menggarap kasus bersama dan berbagi intelijen.

FBI dan aparat China juga disebut pernah melakukan penggerebekan serta penangkapan bersama. Patel bahkan membawa pejabat dari Kementerian Keamanan Publik China ke beberapa fasilitas FBI di Amerika Serikat untuk berbagi informasi investigasi.

Patel baru pulang dari Beijing pada akhir Juli. FBI juga menyebut ada rencana kunjungan serupa ke Rusia pada Oktober, meski jadwal itu masih bersifat tentatif. Menurut Patel, kerja sama dengan Rusia juga sudah berlangsung diam-diam selama berbulan-bulan dan menargetkan jaringan kriminal kekerasan.

“This stuff doesn’t happen overnight,” kata Patel. “We’ve been at this for 15 months.”

Operasi yang paling menonjol sejauh ini terjadi pada Mei. FBI, Kementerian Keamanan Publik China, dan polisi Dubai bekerja sama dalam Operation Sand Dollar, penggerebekan besar terhadap pusat penipuan siber di Dubai yang berujung pada 300 penangkapan, penyitaan US$300 million, dan pembebasan ribuan pekerja yang diperdagangkan.

Risiko besar di balik jalur baru

Langkah Patel memantik kekhawatiran di kalangan kontraintelijen. Mantan pejabat FBI Jeff Crocker mengatakan China dan Rusia tetap aktif berupaya merugikan Amerika secara fisik, ekonomi, dan militer. Ia menilai akses pejabat asing ke fasilitas pemerintah dan lingkungan intelijen membuka celah infiltrasi.

“So this is great cover for them,” kata Crocker. Ia menilai risiko itu besar karena akses sekecil apa pun bisa dipakai untuk membaca pola kerja lembaga Amerika.

Patel membantah kekhawatiran itu akan lepas kendali. Ia mengatakan semua tamu asing yang datang ke fasilitas FBI dipantau dengan langkah kontraintelijen dan penyeimbang. Tiga mantan pegawai FBI yang berbicara kepada Reuters mengatakan pengawasan elektronik dan fisik memang lazim dilakukan, terutama untuk pengunjung dari negara yang dianggap lawan paling berbahaya.

“We know exactly who is coming here, and we vet them,” kata Patel.

Gedung Putih dan perwakilan Rusia di Washington belum memberi tanggapan atas permintaan komentar. Dari pihak China, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington menyebut dialog dan negosiasi sebagai jalan yang tepat, seraya mengatakan cara militer tidak memberi solusi.

Dalam memo internal yang dilihat Reuters, kerja sama FBI dengan Kementerian Keamanan Publik China juga dikaitkan dengan beberapa operasi terhadap perusahaan farmasi China tahun ini. Memo itu menyebut sembilan orang ditangkap, dua fasilitas produksi bahan kimia ditutup, tiga situs terkait dimatikan, dan bahan kimia prekursor fentanyl disita.

Bagi Patel, itulah alasan kerja sama ini dipertahankan. “They are not going to stop, but if we can go and have wins for America, then we must engage,” kata dia.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda