JAKARTA — mahasiswa internasional di kampus-kampus Amerika Serikat diperkirakan turun hampir 10 persen pada tahun ajaran ini, seiring rangkaian pembatasan imigrasi yang didorong pemerintahan Trump. Estimasi itu menempatkan penurunan di level 9,5 persen, menurut NAFSA: Association of International Educators.
Dampaknya tidak kecil. NAFSA memperkirakan sampai 111.000 mahasiswa bisa hilang dari sistem, memukul belanja lokal senilai US$3,4 miliar dan lebih dari 39.000 pekerjaan di berbagai kota kampus di AS.
NAFSA hitung kerugian ekonomi
“All Americans lose when international students and scholars are driven to more welcoming countries,” kata CEO NAFSA Fanta Aw dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan, “Forfeiting U.S position as the top destination for global talent hurts students, hospitals, research laboratories, the economies—and carries the real risk that the next big invention will not happen on U.S. soil.”
Kalimat itu menggambarkan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan pegiat pendidikan. Mereka sudah memperingatkan penurunan sejak beberapa bulan lalu, tepat saat pendaftaran mulai pulih setelah Covid. Tapi pemulihan itu kini terancam tertahan.
NAFSA menyebut kebijakan Gedung Putih mencakup larangan perjalanan bagi sejumlah negara dan pembatasan visa pelajar. Dalam bahan yang dikutip The Independent, agenda itu diperkirakan bisa menekan minat studi ke AS secara langsung.
Visa makin ketat, kampus ikut terdampak
Departemen Keamanan Dalam Negeri pada Juli mengumumkan aturan baru yang membatasi banyak pelajar dan peneliti asing pemegang visa untuk masa tinggal empat tahun. Pemerintah menyebut langkah itu ditujukan untuk menargetkan “forever students” dan menghapus kecurangan.
Presiden juga dilaporkan tengah mempertimbangkan denda US$100.000 pada visa yang dipakai lulusan kelahiran luar negeri untuk bekerja di Amerika Serikat.
Sementara itu, sepanjang tahun lalu, pemerintah mengakhiri status sekitar 1.800 mahasiswa internasional, banyak di antaranya berasal dari negara-negara mayoritas Muslim. The Independent melaporkan, sebagian lain terlibat aktivisme pro-Palestina di kampus.
Administrasi Trump juga mewajibkan pemohon visa baru membuka akun media sosial mereka untuk pemeriksaan. Langkah ini berpotensi menambah efek dingin pada pendaftaran, terutama bagi calon mahasiswa yang menilai proses masuk ke AS makin rumit dan makin terbuka untuk diawasi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.