Kamis, 13 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Mahasiswa internasional di kampus AS diprediksi turun 10%

Mahasiswa internasional di kampus AS dengan dokumen visa pelajar
NAFSA memperkirakan mahasiswa internasional di kampus AS turun 9,5 persen tahun ajaran ini. (Ilustrasi: AI)

Faktor lain datang dari tekanan ke universitas. Pemerintah disebut memangkas miliaran dolar pendanaan federal untuk kampus, dan ini ikut memengaruhi penerimaan, terutama di program pascasarjana yang banyak bergantung pada dana pemerintah. Program sains keras terdampak lebih besar karena jalur risetnya memang sangat terkait dengan anggaran negara.

Efeknya menjalar ke ekonomi kota kampus

Bagi kota-kota yang hidup dari aktivitas kampus, penurunan ini bukan soal ruang kelas semata. Belanja mahasiswa internasional menyokong toko, sewa hunian, transportasi, sampai sektor jasa. Saat jumlah mereka turun, uang yang berputar di ekonomi lokal ikut menyusut.

NAFSA juga mengingatkan bahwa kondisi ini datang saat jumlah pendaftar internasional sebenarnya sempat naik lagi setelah pandemi.

Namun data awal 2025 menunjukkan tren melambat lebih dulu: survei terhadap lebih dari 800 data pendaftaran musim gugur di perguruan tinggi menemukan pendaftaran mahasiswa internasional baru turun hampir 20 persen dibanding 2024.

Pada saat yang sama, pengajuan mahasiswa internasional lewat Common App untuk tahun ajaran 2026-2027 turun 9 persen dibanding tahun sebelumnya.

Pengetatan di AS bahkan disebut disambut lawan-lawan Washington. Sebuah lembaga kajian di Universitas Renmin, China, menerbitkan laporan berjudul “Thank Trump” yang memuji percepatan kemunduran kekuatan ilmiah AS. China kini disebut hampir menyamai tingkat Amerika dalam menghasilkan kandidat obat baru, di saat sebagian pakar menilai banyak talenta memilih bekerja di China ketimbang di AS.

“People in Washington are worried that biotech is the next E.V.s,” kata seorang eksekutif Amerika kepada The New Yorker. “We’ve scared all of this f***ing talent back to China. If you look at the guys who are doing this, they used to work for Western pharma giants, or they were running a top university department somewhere.”

The Independent menyebut sudah meminta komentar dari Gedung Putih, Departemen Luar Negeri, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri. Hingga laporan itu disusun, belum ada tanggapan yang disertakan dalam bahan sumber.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda