Kamis, 6 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Tangan Bionis Dikendalikan Otak: Teknologi Revolusioner untuk Penyandang Amputasi

Ilustrasi interface otak-mesin untuk prostesis tangan yang dikendalikan sinyal saraf
Teknologi saraf-otot memungkinkan otak mengendalikan tangan bionis seolah-olah itu limb asli (ilustrasi konsep ilmiah). (Ilustrasi: AI)

CHICAGO — Jesse Sullivan bisa mengangkat uang receh dari lantai dengan tangan mekanikal yang dikendalikan langsung oleh otaknya. Dua tahun lalu, kedua lengannya putus dalam kecelakaan kabel listrik bertegangan tinggi di Dayton, Tennessee. Kini, Sullivan menjadi bukti hidup bahwa teknologi prostenik telah memasuki era baru.

Perbedaan mencolok terlihat antara dua lengan buatan Sullivan. Di bahu kanan, ada prostesis model lama yang membutuhkan sakelar dagu untuk dioperasikan. Namun di bahu kiri, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: tangan yang merespons niat pikiran Sullivan.

“Di dalam pikiran saya, tangan itu masih ada. Jadi saya menggunakan siku sebagai kontrol,” kata Sullivan. “Ketika saya membuka, saya benar-benar membuka tangan. Ketika saya menutup, saya benar-benar menutup tangan.”

Saraf Direroute ke Otot Dada

Keajaiban ini menjadi mungkin berkat teknik revolusioner yang dikembangkan Dr. Todd Kuiken dan timnya di Rehabilitation Institute of Chicago. Para ahli bedah mengambil ujung saraf yang pernah mengendalikan lengan Sullivan dan mengubah jalurnya ke otot-otot dada.

Saraf-saraf itu tumbuh ke dalam otot. Hasilnya: otak Sullivan bisa menggerakkan otot dada seolah-olah itu adalah tangan aslinya. “Kami pada dasarnya me-rewiring-nya,” ujar Dr. Kuiken. “Kami menggunakan ototnya sebagai penguat biologis dari sinyal saraf.”

Ketika Sullivan berpikir “tutup tangan,” saraf yang dulunya menutup tangannya membuat segmen kecil otot dada berkontraksi. Dua antena kecil di dalam rompi pendukung mendeteksi kontraksi itu. Komputer menerjemahkan sinyal menjadi perintah: tangan buatan menutup.

Sullivan adalah orang pertama yang menerima cangkok saraf-otot seperti ini dan menggunakannya untuk mengendalikan limb buatan. Meski belum sempurna—perangkat masih membutuhkan penyesuaian rutin—teknologi ini mengubah drastis cara Sullivan menjalani hidup sehari-hari.

Kontrol yang Jauh Lebih Baik

Dengan sisi yang tidak bertenaga listrik, Sullivan bisa mengangkat benda bulat dengan cepat. Tapi dengan sisi elektrik, dia bisa melakukan hal-hal yang mustahil sebelumnya. “Saya bisa mengangkat benda sehalus uang receh dari lantai atau meja,” jelasnya.

Perbedaannya fundamental. Kait manual bisa menangani benda kecil cepat, tapi kesulitan dengan objek berat. Tangan elektrik, yang dikendalikan pikiran, jauh lebih responsif dan fleksibel untuk berbagai tugas.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda