JAKARTA, JOURNALARTA.COM — PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), yang sebelumnya dikenal sebagai Adaro Energy Indonesia, berhasil mencetak kinerja keuangan impresif pada semester I 2026. Laba bersih perusahaan melonjak 76,83% menjadi USD309,36 juta atau setara Rp5,49 triliun (kurs Rp17.740).
Kenaikan signifikan ini didukung oleh pendapatan usaha yang mencapai USD999,24 juta, naik 16,51% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar USD857,69 juta. Pencapaian ini menempatkan laba bersih ADRO pada paruh pertama 2026 sudah sekitar 50% dari estimasi konsensus tahun penuh dan 60% dari target Sucor Sekuritas. Angka ini terbukti sangat menggairahkan pasar.
Kinerja Keuangan Cemerlang dan Efisiensi Operasional
Laporan keuangan per 29 Agustus 2026 (berdasarkan laporan IDX Channel dan Pranala.co.id) menunjukkan efisiensi operasional yang solid. Beban pokok penjualan hanya naik tipis 0,55% menjadi USD576,55 juta dari USD573,42 juta, sehingga laba kotor melesat 48,69% menjadi USD422,68 juta dari USD284,27 juta. Laba usaha pun melonjak 87,76% menjadi USD381,76 juta, didorong oleh penurunan beban usaha menjadi USD58,34 juta dari USD60,3 juta.
Khusus pada kuartal II 2026, ADRO mencatat laba bersih USD181 juta, yang berarti kenaikan 41% secara kuartalan (QoQ) dan 84% secara tahunan (YoY). Margin EBITDA perusahaan melebar dari 41,6% di kuartal I menjadi 55,8% di kuartal II. Laba jasa pertambangan ikut melaju 111% QoQ dan 140% YoY menjadi USD63 juta, berkat penurunan biaya consumables dari USD32 juta menjadi USD18 juta.
Pada Juni 2026, total aset ADRO mencapai USD7,8 miliar, naik dari USD6,81 miliar. Peningkatan ini disumbangkan oleh persediaan, aset tetap, aset hak guna, dan penambahan aset berupa aluminium ingot. Sementara itu, liabilitas tercatat USD2,68 miliar, meningkat karena sewa bangunan dan peralatan baru serta pinjaman untuk smelter aluminium. Ekuitas perusahaan stabil di USD5,13 miliar.
Dua Pilar Pendapatan Utama: Pertambangan dan Jasa
Secara rinci, segmen pertambangan ADRO menyumbang pendapatan sebesar USD581,80 juta, di mana USD580,38 juta berasal dari penjualan hasil tambang. Pasar utama penjualan ADRO meliputi Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Volume batubara yang terjual mencapai 3,13 juta ton, naik 8,7% YoY, dengan harga jual rata-rata USD185,4 per ton, melonjak 20,9% YoY.
Segmen kedua, jasa pengolahan pertambangan (SIS), membukukan pendapatan USD470,81 juta. Segmen ini didukung oleh kontrak jangka panjang antara 10 hingga 33 tahun untuk layanan seperti rental alat, overburden removal, ekstraksi batubara, dan transportasi bahan bakar. Kontribusi dari joint venture juga berbalik positif menjadi USD33,5 juta, melonjak 941,3% YoY dari kerugian USD3,8 juta pada periode sebelumnya. Laba sebelum pajak pun mencapai USD415,9 juta, naik 67,18%.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.