JAMBI — Alokasi anggaran Rp70,197 miliar untuk perbaikan jalan di Provinsi Jambi tahun depan tidak akan cukup mengatasi backlog infrastruktur yang besar. Namun Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, justru menekankan bahwa keterbatasan ini tidak boleh jadi alasan menurun kualitas. Setiap rupiah harus diprioritaskan pada ruas jalan yang benar-benar menguntungkan ekonomi masyarakat.
Data kondisi jalan provinsi hingga Mei 2026 menunjukkan dari total 1.183,787 kilometer jaringan jalan, sebanyak 847,872 kilometer atau 71,62 persen sudah dalam kondisi mantap. Sisanya, 335,915 kilometer atau 28,38 persen, masih rusak dan butuh penanganan bertahap.
Tantangan nyata terletak pada kesenjangan antara kebutuhan dan alokasi anggaran. Dengan asumsi biaya perbaikan jalan antara Rp3–5 miliar per kilometer, anggaran sebesar Rp70,197 miliar hanya mampu meningkatkan kondisi jalan mantap sekitar 10 hingga 18 kilometer.
Angka itu artinya persentase jalan mantap Jambi hanya meningkat dari 71,62 persen menjadi 72,47–73,15 persen, atau bertambah maksimal 1,5 poin persentase.
Fokus pada Dampak Ekonomi, Bukan Pemerataan
Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Provinsi Jambi itu menekankan strategi berbeda. Penanganan jalan tidak boleh sekadar “pemerataan anggaran” ke seluruh wilayah, melainkan fokus pada ruas-ruas strategis yang langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.
“Dengan kemampuan APBD yang terbatas, kita harus memastikan setiap program benar-benar menghasilkan peningkatan jalan mantap yang terukur. Penanganan harus difokuskan pada ruas yang memiliki dampak ekonomi besar, bukan sekadar pemerataan anggaran. Perencanaan harus berbasis kebutuhan dan manfaat agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Ivan pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurut analisis postur anggaran Bidang Bina Marga Dinas PUTR, tidak semua dana anggaran digunakan untuk pekerjaan fisik. Sebagian masih dialokasikan untuk kegiatan perencanaan, survei, pengawasan, administrasi, dan kegiatan penunjang lainnya. Hal ini membuat porsi anggaran untuk peningkatan jalan aktual menjadi lebih kecil dari angka nominal.
Konektivitas dan Akselerasi Pertumbuhan
Ivan melihat perbaikan jalan sebagai sarana meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Strategi ini penting mengingat keterbatasan sumber daya. Jalan yang dipilih sebaiknya menghubungkan pusat produksi dengan pasar, pusat distribusi, atau wilayah dengan potensi ekonomi tinggi.
Percepatan pembangunan infrastruktur jalan, menurut Wakil Ketua DPRD, tidak bisa semata mengandalkan APBD lokal. Diperlukan dukungan anggaran nasional, skema kerjasama publik-privat, atau pendanaan alternatif lainnya untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur yang cukup serius.
Pendekatan yang dianjurkan Ivan mencerminkan realitas fiskal daerah yang ketat. Dengan infrastruktur jalan yang masih 28 persen dalam kondisi buruk, keputusan strategis dalam penentuan prioritas menjadi lebih kritis daripada sebelumnya. Setiap kilometer yang diperbaiki harus memberikan multiplier effect ekonomi yang signifikan bagi komunitas lokal.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.