Film BMX perempuan pertama dari New York City, The City in Bloom, hadir dengan pesan yang lebih besar dari sekadar aksi di jalanan. Karya ini menampilkan bagaimana film BMX perempuan bisa membuka ruang baru bagi rider, filmmaker, dan kreator perempuan di olahraga yang lama didominasi laki-laki.
Proyek garapan The Bloom BMX itu merekam Angie Marino dari Amerika Serikat, Bethany Hedrick dari Amerika Serikat, dan Emma Finnegan dari Inggris selama sepekan riding dan syuting di New York City. Pengambilan gambar dilakukan pada April, dan film ini disebut sebagai street edit terbaru yang lahir dari sudut-sudut kota yang sudah lama jadi panggung BMX.
Film BMX perempuan dan alasan The City in Bloom penting
New York City memang punya sejarah panjang dalam budaya BMX street. Tangga, handrail, ledge, dan arsitektur kota yang ikonik selama ini jadi tempat lahirnya banyak video street. Di situ pula The City in Bloom menambah bab baru.
Yang membuatnya menonjol bukan cuma lokasi syuting. Film ini adalah produksi all-women dari awal sampai akhir. Beatrice Trang dan Angie Marino, pendiri The Bloom BMX, menggarapnya sebagai proyek kolaboratif yang memang dirancang untuk menempatkan perempuan di depan kamera sekaligus di belakang layar.
Trang memimpin proses syuting, sementara Marino mengambil angle tambahan dan ikut menggarap penyuntingan. Dukungan utama datang dari Vans, disusul GoPro, Kink BMX, dan Sony Alpha Female. Komposisi ini menunjukkan bahwa film BMX perempuan tak lagi sekadar proyek kecil, tetapi sudah punya ekosistem pendukung yang nyata.
Di balik kamera, ada lompatan kreatif
Bagi Trang, proyek ini punya arti personal. Ia sudah bertahun-tahun mendokumentasikan kontes dan event BMX sebagai salah satu dari sedikit perempuan yang bekerja profesional sebagai fotografer dan videografer di cabang ini. Kini, ia mendapat ruang untuk masuk ke wilayah yang lebih bebas dan kreatif.
“I’ve been filming BMX events and contests for a number of years, so it’s been a long-time goal of mine to take on a project that would allow me to explore the more creative side of filmmaking,” kata Trang. “This project meant a great deal to me.
Not only was it my first street project, but I got to create it alongside women I grew up riding with and watched evolve as athletes and people over the years.”
Komentar itu memperlihatkan satu hal sederhana. Proyek seperti ini bukan cuma soal hasil akhir. Ada perjalanan, relasi, dan rasa percaya yang dibangun selama prosesnya.
Trang juga menekankan tantangan kreatif saat merekam gaya tiap rider yang berbeda. “Each rider brought her own style, personality and approach to street riding, and one of my biggest challenges was making sure that individuality came through on screen,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa syuting street memberi ruang untuk bereksperimen dengan movement, angle, dan storytelling.
Soal itu, street BMX memang berbeda. Park dan dirt punya karakter sendiri, tapi street mengubah elemen kota yang biasa jadi lintasan teknik dan kreativitas. Tangga, rail, curbs, hingga ledge bisa jadi medan kerja berjam-jam, bahkan berhari-hari, untuk satu trik. Di situlah film ini menemukan napasnya.
Dampaknya ke industri BMX street
Bagi industri BMX street, film ini punya efek yang terasa langsung. Ia menambah visibilitas pada rider perempuan, sekaligus menunjukkan bahwa ruang kreatif di olahraga ini juga bisa diisi oleh perempuan di posisi penyutradaraan, kamera, dan editing. Buat ekosistem BMX, itu bukan detail kecil.
Marino, yang sudah beberapa kali naik podium UCI World Cup, melihat film sebagai bentuk penciptaan yang berbeda dari kompetisi. “Competitions and film projects are both fulfilling in their own unique ways,” katanya. “With a film project, you’re creating something more meaningful.
You have the opportunity to be creative, collaborate with a team and put together a piece that people can watch years from now.”
Ia melanjutkan, film memberi ruang untuk mengekspresikan diri, mendorong batas mental dan fisik, lalu menghasilkan karya yang bisa menginspirasi orang lain. Nada itu terasa penting, terutama saat banyak atlet perempuan masih berjuang untuk mendapat panggung setara di cabang BMX.
Di sisi regulasi dan kompetisi, jalan masih panjang. X Games baru menambahkan medali BMX park putri pada 2024 setelah bertahun-tahun rider perempuan hanya mendapat sesi demo. Hingga kini, belum ada kompetisi women’s BMX street. Sementara untuk rider pria, nomor yang tersedia mencakup BMX park, BMX street, BMX dirt, dan BMX dirt best trick.
Karena itu, The City in Bloom bukan sekadar video street lain dari New York. Film ini ikut menekan batas yang selama ini membatasi representasi perempuan di BMX. Trang berharap proyek seperti ini membuat lebih banyak perempuan berani masuk ke peran kreatif dalam olahraga, bukan hanya sebagai atlet, tapi juga sebagai pembuat karya.
“Being part of a small but growing group of women behind the camera in BMX is something I’m genuinely proud of,” kata Trang. “I hope projects like this inspire more women to step into creative roles within the sport.”
Dan ke depan, karya semacam ini tampaknya masih akan jadi penggerak penting. Soalnya, ketika film, rider, dan kru perempuan mulai membangun arsip visual mereka sendiri, BMX street tak lagi hanya direkam dari satu sudut pandang.
Slip finalnya belum selesai.
Masih ada ruang untuk bab berikutnya.
Karya-karya seperti ini kemungkinan bakal menentukan siapa yang ikut menulis sejarah BMX street setelahnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.