JAKARTA — refund tarif menjadi jalan pintas bagi sejumlah perusahaan ritel dan merek konsumen di Amerika Serikat untuk mendapatkan kas cepat saat pencairan dari pemerintah masih tertahan. Di tengah tunggakan klaim yang belum cair, beberapa perusahaan malah melepas hak atas dana itu ke pihak ketiga dengan imbalan uang tunai yang lebih kecil namun segera masuk ke rekening.
Langkah ini mencerminkan tekanan likuiditas yang mereka hadapi setelah terdampak tarif besar-besaran era Presiden Donald Trump. Bagi perusahaan, pilihannya sederhana tapi pahit: menerima lebih sedikit sekarang atau menunggu lebih lama untuk dana yang nilainya bisa lebih besar.
Hak refund tarif dijual sebelum putusan pengadilan
Wall Street Journal dan Retail Dive melaporkan, sepanjang tahun lalu GoPro, American Eagle Outfitters, The Children’s Place, dan sejumlah perusahaan lain meneken kesepakatan dengan pembeli yang menawarkan uang tunai sebagai gantinya atas hak menerima refund tarif bernilai jutaan dolar.
American Eagle Outfitters, misalnya, menyebut dalam laporan kuartal pertama 2026 bahwa perusahaan menjual klaim refund tarif senilai US$68,9 juta dan memperoleh US$18,6 juta tunai. The Children’s Place juga melaporkan telah menyetujui penyerahan klaim tarif senilai US$38,2 juta kepada Alnus Investors sebagai imbalan US$25,7 juta.
GoPro mengambil langkah serupa. Perusahaan itu disebut membayar sekitar US$20,2 juta dalam tarif Trump dan menjual US$19,4 juta dari potensi klaimnya kepada pihak ketiga pada Februari, sebelum Mahkamah Agung memutus perkara tarif tersebut.
Kenapa perusahaan rela melepas lebih murah
David Wong, managing principal di BDO, mengatakan inti risikonya ada pada waktu dan kepastian pencairan. “For the seller, a lot of the risk is purely the economics of that transaction because of the uncertainty on exactly when an importer will receive their tariff refund,” ujarnya kepada Retail Dive.
Wong menjelaskan perusahaan harus menimbang apakah mereka mau menerima uang lebih kecil tetapi lebih cepat, atau menunggu lebih lama demi refund yang nilainya bisa lebih tinggi. Pilihan itu tidak selalu nyaman. Tapi di situ letak tekanannya.
Academy Sports & Outdoors juga disebut menjual sebagian klaim tarifnya dan memperoleh sekitar US$10,5 juta, menurut pengajuan kuartal pertama perusahaan. Dengan menjual hanya sebagian, perusahaan itu masih bisa meminta sebagian refund tarif dari pemerintah.
Refund tarif masih sulit dicairkan
Mahkamah Agung pada Februari membatalkan tarif Trump yang diberlakukan di bawah International Emergency Economic Powers Act atau IEEPA. Meski begitu, proses meminta dan memperoleh refund tarif tetap panjang dan melelahkan bagi importir.
U.S. Customs and Border Protection mengoperasikan portal daring untuk permintaan pengembalian dana. Hingga akhir Juli, pemerintah AS telah mengembalikan sekitar US$100 miliar dalam tarif, setara 60 persen dari US$166 miliar yang dipungut pemerintahan Trump.
Namun urusan ini belum selesai. Trump masih berupaya mengenakan tarif baru kepada mitra dagang, kali ini lewat bagian dari Trade Act of 1974 yang ditujukan untuk melawan praktik ekonomi diskriminatif. Sejumlah bisnis kecil dan sedikitnya 25 negara bagian telah menggugat kebijakan terbaru itu.
Di pasar, langkah menjual hak refund tarif menunjukkan satu hal sederhana: banyak perusahaan tak mau menunggu lama untuk uang yang belum tentu cair mulus. Dan selama tarik-ulur tarif belum tuntas, klaim refund itu tetap bernilai, bahkan sebelum pemerintah menuliskannya sebagai pembayaran.
“The agreements have given companies an extra boost while waiting for the rollout of refunds,” tulis Wall Street Journal dalam laporannya, merujuk pada perusahaan yang sudah tertekan oleh biaya tarif dan kini mencari napas tambahan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.