Sabtu, 26 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Jejak Merapi 2010 Terekam di Kerangka Motor Museum Geologi

Kerangka motor tertutup abu vulkanik di Ruang Pamer Museum Geologi Bandung menampilkan jejak erupsi Merapi 2010
Kerangka motor yang tertutup material vulkanik dan abu mengeras di Museum Geologi Bandung menjadi bukti nyata dampak erupsi Merapi 2010. (. (Ilustrasi: AI)

BANDUNG — Sebuah kerangka motor yang dipajang di Museum Geologi Bandung bukan sekadar benda rongsokan. Dalam kerusakan yang tersisa, tersimpan rekaman fisik dari dahsyatnya erupsi Gunung Merapi 2010.

Motor itu berada di Ruang Pamer Manfaat dan Bencana Geologi. Hampir seluruh bagiannya tertutup material vulkanik dan abu yang mengeras. Bukti nyata dari awan panas atau wedhus gembel yang menerjang dan menghancurkan segala sesuatu di jalurnya.

Di sekitar motor dipajang sejumlah benda lain yang sama memprihatinkan: termos, televisi, radio, helm, dan rice cooker. Sebagian meleleh. Sebagian lain retak. Setiap objek menceritakan kisah bagaimana enerji panas ekstrem berinteraksi dengan materi yang berbeda-beda.

Pemandangan itu memperlihatkan dampak erupsi yang jauh lebih kompleks dari sekadar hujan abu atau batu vulkanik. Awan panas membawa campuran gas vulkanik, abu, dan material dengan suhu tinggi. Ketika menerjang permukiman, benda-benda di jalurnya mengalami kerusakan dalam waktu singkat. Sangat singkat.

Materi Berbeda, Kerusakan Berbeda

Tidak semua benda dalam display mengalami kondisi sama. Ada yang meleleh, ada yang tetap relatif utuh. Perbedaan ini langsung terkait dengan karakter material masing-masing, khususnya titik leleh mereka. Bentuk benda yang tersisa jadi indikator berapa banyak panas yang diterimanya.

Plastik memiliki titik leleh sekitar 160–390°C. Karet berada di kisaran 180°C. Kedua material ini jauh lebih mudah berubah bentuk dibanding besi murni yang titik lelehnya mencapai 1.538°C. Itulah mengapa benda berbahan plastik dan karet menunjukkan kerusakan akibat panas lebih cepat ketimbang logam.

Gelas punya titik leleh sekitar 1.400–1.600°C. Besi campuran berada di rentang 1.205–1.370°C. Perbedaan angka itu menjelaskan fenomena yang terlihat di Museum Geologi: dalam satu lokasi bencana, ada benda yang meleleh dan berubah bentuk drastis, sementara material lain masih mempertahankan arsitektur aslinya. Setiap material punya cerita tersendiri.

Dari Benda, Suhu Bisa Diperkirakan

Dari kondisi benda-benda itu, suhu awan panas dapat diperkirakan secara kasar berdasarkan material yang mengalami perubahan. Namun titik leleh tidak bisa menjadi satu-satunya cara menentukan suhu awan panas secara pasti.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 25 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online