JAKARTA — sanksi AS dijatuhkan ke Shelbit, bursa kripto berbasis Dubai, setelah pemerintah Amerika Serikat menuduh perusahaan itu memproses jutaan dolar untuk entitas negara Iran dan jaringan yang terkait dengan IRGC. Langkah ini diumumkan Departemen Keuangan AS dan diarahkan untuk menekan jalur penghindaran sanksi lewat jaringan aset digital.
Dalam bahan yang sama, Shelbit disebut memfasilitasi transaksi untuk bank sentral Iran dan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Perusahaan itu membantah seluruh tuduhan dan menyatakan operasinya berhenti pada Januari 2026. Regulator Dubai sebelumnya juga menemukan Shelbit melanggar aturan anti-pencucian uang.
Sanksi AS dan jejak transaksi kripto
Departemen Keuangan AS menempatkan Shelbit dalam sorotan karena aliran kripto dinilai bisa dipakai untuk memindahkan dana lintas batas tanpa melalui saluran keuangan konvensional. Itu sebabnya kasus ini tidak hanya soal satu bursa kripto, tapi juga soal cara negara dan jaringan bisnis mencoba menembus pembatasan ekonomi yang diberlakukan Washington.
Menurut laporan Reuters yang dirujuk dalam sumber pembanding, Shelbit diposisikan sebagai simpul dalam jaringan penghindaran sanksi Iran senilai $4 miliar.
Laporan itu menyebut perusahaan berbasis Dubai tersebut memindahkan aset digital untuk bank sentral Iran, jaringan judi daring ilegal, dan alamat yang dikaitkan pemerintah Israel dengan IRGC.
Reuters juga melaporkan Shelbit sempat mengaktifkan kembali situsnya setelah investigasi itu terbit pada 31 Juli.
Reaksi Shelbit dan temuan regulator Dubai
Shelbit menolak semua tuduhan. Dalam pernyataannya, perusahaan mengatakan operasinya telah berhenti sejak Januari 2026. Di sisi lain, temuan regulator Dubai sebelumnya menambah tekanan terhadap perusahaan itu karena ada pelanggaran aturan anti-pencucian uang.
Nama Shelbit sendiri bukan satu-satunya yang terseret. Sumber pembanding menyebut AS juga menjatuhkan sanksi kepada Siavash Kayvanpour, warga Iran yang tinggal di luar negeri dan disebut sebagai pendiri Shelbit, atas dugaan dukungan material kepada IRGC dan Nobitex.
Nobitex, bursa kripto terbesar di Iran, sebelumnya juga disanksi pada 2 Juni karena membantu pemerintah Iran menghindari sanksi Barat, menurut laporan Reuters yang dikutip sumber pembanding.
Dampak ke industri kripto dan pengawasan sanksi
Kasus ini memberi sinyal keras ke industri aset digital. Bursa kripto yang beroperasi lintas yurisdiksi kini makin rentan disorot bila dipakai untuk memindahkan dana bagi pihak yang masuk daftar sanksi. Bagi regulator, transaksi kripto yang tampak teknis bisa berubah jadi jalur pendanaan yang sulit dilacak, apalagi jika melibatkan perusahaan yang tidak berizin atau longgar soal kepatuhan.
Bagi pasar, dampaknya terasa di reputasi dan pengawasan. Bursa yang berada di pusat perdagangan internasional, seperti Dubai, akan menghadapi pertanyaan lebih berat soal uji kepatuhan, identifikasi pengguna, dan pemantauan sumber dana.
Kasus Shelbit menunjukkan bahwa satu platform bisa ikut menyeret jaringan yang jauh lebih luas, dari bank sentral negara yang disanksi sampai entitas yang dikaitkan dengan IRGC.
Treasury bahkan menegaskan sikap kerasnya terhadap jaringan semacam ini. Dalam pernyataan yang dikutip sumber pembanding, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, “Treasury will hunt down and dismantle the illicit financial networks that keep the regime afloat.”
Di titik ini, sanksi AS terhadap Shelbit bukan hanya penindakan terhadap satu bursa. Ini juga peringatan bahwa transaksi kripto lintas negara akan terus diawasi sebagai bagian dari perang melawan pendanaan terlarang yang bergerak cepat, senyap, dan sulit dibekukan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.