Minggu, 9 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Selat Hormuz Jadi Senjata Iran, AS Tertekan di Tengah Perang

Selat Hormuz yang jadi tekanan Iran terhadap AS
Selat Hormuz menjadi kartu tekan Iran dalam perang melawan Amerika Serikat. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Selat Hormuz kembali jadi pusat tekanan Iran terhadap Amerika Serikat. Dalam laporan The Los Angeles Times, para pemimpin Iran bertaruh bahwa tekanan militer yang berkelanjutan dan kendali atas jalur sempit itu akan memaksa Washington menerima syarat mereka.

Taruhannya besar. Selama selat itu tetap tertutup sebagian, harga gas dan barang lain diperkirakan tetap tinggi di Amerika Serikat menjelang pemilihan kongres November, sementara perang juga makin menguras energi politik di dalam negeri AS.

Iran hitung waktu berpihak pada mereka

Di dalam lingkaran kekuasaan Iran, para analis keamanan dan diplomat veteran justru memperingatkan ada batas untuk strategi itu. Mereka mendorong kesepakatan dengan Washington sebelum ekonomi jatuh lebih dalam dan konflik masuk ke wilayah yang jauh lebih berbahaya.

Iran melihat sejumlah keuntungan sekaligus. Mereka tahu stok senjata penting Amerika, seperti advanced missile interceptors, makin menipis. Mereka juga paham perang ini tidak populer di kalangan warga AS. Dan mereka membaca bahwa upaya membuka selat dengan kekuatan bisa sangat mahal, bahkan mungkin memerlukan pasukan darat Amerika.

Iran juga menghitung sekutu mereka di Yaman. Kelompok Houthi, menurut bahan sumber, bisa memperluas perang dan mengganggu rute perdagangan utama lain. Dari sudut pandang Tehran, logikanya sederhana: Presiden Trump pada akhirnya harus menyerah.

Namun, pemerintah AS punya narasi berbeda. Trump menunjuk serangan yang, menurutnya, telah melumpuhkan pimpinan tertinggi Iran, angkatan laut, dan angkatan udara. Ia juga bergantian mengancam eskalasi dan mengatakan pembicaraan berjalan baik. Sementara itu, ekonomi Iran sendiri sudah terpukul, antara lain akibat blokade AS.

Selat Hormuz jadi kartu tawar energi dunia

Selat Hormuz bukan jalur kecil biasa. Menurut bahan sumber, sebelum perang jalur ini mengangkut seperlima minyak dan gas yang diperdagangkan di dunia. Karena itu, setiap gangguan langsung memukul rantai pasok energi global dan membuat banyak negara cemas.

Iran mengatakan hampir mencapai kesepakatan dengan Oman untuk mengelola selat itu. Tapi kesepakatan itu akan bergantung pada pencabutan blokade AS. Artinya, meski Iran menegaskan tidak ada negosiasi langsung, keputusan akhir tetap membutuhkan persetujuan Trump.

Abdolreza Davari, analis yang pernah menjadi penasihat mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, menegaskan bahwa yang dicari Iran bukan semata pemasukan. Ia mengatakan, “More than revenue from the strait, Iran wants to confirm its management and sovereignty over the strait,” saat berbicara lewat telepon dari Teheran.

Mahdi Mohammadi, penasihat untuk negosiator utama Iran, juga menulis di media sosial: “They started the war, but its end was never with them. We always decide for ourselves when it ends,” lalu menambahkan, “Iran is going after the enemy’s defeat — not an agreement.”

Bagi Iran, kontrol formal atas sebagian selat akan menjadi kemenangan jelas. Bagi AS, itu berarti kegagalan mencapai sejumlah target perang yang terus berubah. Dampaknya juga melebar ke dunia: kebebasan navigasi akan terganggu dan preseden baru tercipta, bahwa negara bisa menutup titik sempit perdagangan sesuka hati.

China ikut memberi sinyal. Negara itu, yang membeli minyak dari Iran dan punya pengaruh atas Tehran, masih mengatakan pada Mei bahwa “normal and safe passage” melalui selat itu harus dipulihkan.

Risiko di dalam negeri Iran belum hilang

Masalahnya, Iran juga tidak berada di posisi nyaman. Serangan AS dan Israel telah menghantam basis industrinya. Blokade AS menahan ekspor minyak. Di dalam negeri, warga menghadapi inflasi pangan yang mencapai triple-digit.

Ketegangan ekonomi itu sudah memicu gejolak. Pada Desember, krisis mata uang memantik salah satu gelombang protes anti-pemerintah terbesar dalam 47 tahun sejarah Republik Islam. Aparat merespons dengan penindasan berdarah yang menewaskan ribuan orang dan menahan puluhan ribu lainnya.

Karena itu, suara kehati-hatian makin keras terdengar di Tehran. Mostafa Najafi, analis keamanan berbasis di Teheran, menyebut Selat Hormuz telah menjadi “strategic lever for deterrence, maintaining the regional balance of power, and reshaping the security rules in the Persian Gulf.”

Rahman Ghahremanpour, analis yang berbasis di Iran, menilai isu nuklir juga terdorong ke pinggir oleh konflik di selat itu. Jika pembicaraan nuklir dibuka lagi, kontrol atas Hormuz akan memberi Iran daya tawar baru. Dan untuk saat ini, kartu itu masih mereka genggam rapat.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda