Senin, 10 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Bank Sentral Asia Cari Cara Baru Jaga Mata Uang Tanpa Kuras Devisa

Bank sentral Asia menjaga mata uang tanpa kuras devisa
Bank sentral Asia memperluas strategi untuk menjaga mata uang tanpa terus menguras cadangan devisa. (Ilustrasi: AI)

Indonesia juga ikut masuk peta strategi baru itu. Dalam dua bulan terakhir, Indonesia menarik sekitar USD 1,6 miliar atau sekitar Rp 28,6 triliun aliran dana ke pasar obligasi. Pemerintah turut memberi sejumlah insentif untuk mengembalikan minat investor asing pada aset keuangan domestik.

Taiwan memilih langkah serupa dengan meminta eksportir menjual dolar AS saat mata uang lokal mengalami tekanan. Bagi bank sentral, cara ini memberi pasokan valuta asing tambahan tanpa harus terus menguras cadangan devisa di pasar.

Dampaknya ke rupiah dan pasar Asia

Tekanan pada mata uang Asia terlihat jelas sepanjang tahun ini. Rupiah Indonesia, rupee India, dan baht Thailand masuk lima mata uang dengan kinerja terburuk dari 22 mata uang negara berkembang yang dipantau Bloomberg.

Di seberang itu, Amerika Latin justru tampil lebih kuat. Peso Kolombia, real Brasil, dan peso Meksiko menjadi mata uang dengan kinerja terbaik. Keunggulan kawasan itu datang dari suku bunga yang relatif lebih tinggi dan posisi sebagai eksportir minyak, sehingga lebih terlindungi saat harga energi naik.

Head of Investment Management Western Asset Management di Singapura, Desmond Fu, mengatakan bahwa dari sisi imbal hasil total, mata uang Amerika Latin masih punya keunggulan karena imbal hasil yang lebih tinggi.

Namun, ia melihat mata uang Asia bisa mempersempit jarak jika imbal hasil obligasi AS mulai stabil, gangguan pasokan energi tidak memburuk, dan siklus investasi kecerdasan buatan tetap menopang ekspor teknologi serta belanja modal di kawasan.

Arah kebijakan Federal Reserve juga masih jadi penentu besar. Pasar mencermati sikap The Fed setelah tiga pejabatnya berbeda pendapat dalam keputusan bulan lalu untuk mempertahankan suku bunga. Mereka juga memperingatkan bahwa terlambat mengendalikan inflasi dapat memaksa bank sentral AS mengambil langkah yang lebih agresif di kemudian hari.

Michael Wan, Senior Currency Analyst MUFG Bank di Singapura, mengatakan bank sentral Asia kini memilih menyimpan lebih banyak amunisi kebijakan menghadapi ketidakpastian global. “Bank sentral Asia mempertahankan lebih banyak amunisi karena ketidakpastian yang lebih besar terkait berbagai peristiwa global, termasuk arah harga minyak, El Nino, imbal hasil AS, dan dolar,” ujarnya.

Bagi pasar kawasan, strategi baru ini berarti satu hal: tekanan pada mata uang tak lagi dijawab hanya dengan jual-beli devisa di pasar. Bank-bank sentral Asia kini mencoba mengumpulkan dolar dari jalur yang lebih beragam, dan langkah itu kemungkinan terus dipakai selama gejolak global belum reda.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair