Jika serapan anggaran di bulan-bulan mendatang tersendat atau kebijakan yang dikeluarkan justru kontraproduktif terhadap iklim bisnis, bukan tidak mungkin target pertumbuhan tahunan akan direvisi ke bawah.
Ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter negara maju pun masih menghantui. Tekanan terhadap kurs rupiah bukanlah barang baru, tapi dampaknya terhadap biaya impor bahan baku industri manufaktur lokal sangat nyata. Saat biaya produksi membengkak, margin laba pelaku usaha tergerus, yang pada akhirnya akan menghambat niat mereka untuk membuka lapangan kerja baru.
Ke depannya, fokus utama tidak lagi sekadar mengejar persentase pertumbuhan di angka lima koma sekian. Ketahanan ekonomi nasional lebih membutuhkan sektor swasta yang kembali bergairah dan konsumsi masyarakat yang stabil. Tanpa kehadiran swasta yang agresif, pertumbuhan ekonomi akan terus menjadi “jagoan kandang” yang hanya bisa hidup dari napas bantuan pemerintah.
Para pengamat kini mulai mengarahkan pandangannya pada bulan depan. Data realisasi belanja pemerintah di kuartal ketiga akan menjadi kunci pembuka rahasia arah ekonomi kita di sisa tahun ini. Jika pemerintah gagal menjaga momentum ini, maka angka 5,29 persen yang dicapai di kuartal kedua bisa jadi hanyalah puncak sementara, sebelum tren perlambatan benar-benar mulai terasa dampaknya di lapangan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.