Senin, 10 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Pendapatan Nelayan & UMKM di Kampung Tua Terih Meningkat Berkat Pendampingan Pertamina

Pendapatan Nelayan & UMKM di Kampung Tua Terih Meningkat Berkat
Pendapatan Nelayan & UMKM di Kampung Tua Terih Meningkat Berkat

Bau amis khas laut menyengat tipis saat memasuki Kampung Tua Terih, Batam. Namun, di balik kesibukan para nelayan yang baru menepi, ada geliat ekonomi baru yang sedang tumbuh di dapur-dapur rumah warga. Kini, hasil tangkapan laut mereka tak lagi berakhir begitu saja di tangan tengkulak dengan harga seadanya.

Perubahan ini terjadi sejak Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Hang Nadim masuk melalui program Community Involvement & Development (CID) bertajuk Kampung Bahari Si Pelaut. Kelompok nelayan dan para perempuan pengolah hasil laut di sana disuntik pengetahuan baru.

Mereka belajar cara mengolah ikan menjadi produk pangan siap jual yang nilainya jauh lebih tinggi daripada sekadar menjual ikan segar di pasar.

Mengubah Nasib dari Dapur Rumah

Menjual ikan mentah memang punya risiko besar. Harganya naik-turun sesuka pasar. Belum lagi jika cuaca buruk datang, nelayan terpaksa menepi dan dompet pun menipis. Kondisi itulah yang coba dipangkas oleh Pertamina. Fokusnya satu: jangan hanya menjual komoditas mentah.

Kelompok perempuan di Kampung Tua Terih kini menjadi garda depan. Mereka memutar otak di dapur untuk mengubah ikan dan hasil laut lainnya menjadi camilan atau lauk siap saji. Dengan pengolahan yang tepat, produk-produk ini memiliki umur simpan yang lebih panjang. Daya tawarnya pun melonjak drastis dibandingkan saat mereka hanya menjual ikan segar dengan margin keuntungan yang tipis.

Transformasi ini tidak terjadi dalam semalam. Pertamina berperan sebagai fasilitator yang menyediakan akses ilmu pengetahuan. Warga dilatih mengolah produk, mengemasnya dengan lebih baik, hingga memahami standar kebersihan pangan. Dampaknya konkret.

Keuangan rumah tangga nelayan di sana kini punya jaring pengaman. Saat laut sedang ganas dan perahu tak bisa melaut, pemasukan tambahan dari sektor pengolahan pangan ini menjadi penopang utama.

Kemandirian di Balik Jaring

Pendekatan yang dilakukan bukan sekadar memberi bantuan alat, tapi menyentuh sisi edukasi dan kemandirian. Masyarakat diajarkan untuk tidak bergantung pada satu sumber pendapatan saja. Sinergi antara korporasi dan komunitas pesisir ini perlahan-lahan mengubah wajah ekonomi Kampung Tua Terih.

Produk olahan yang dihasilkan warga kini mulai memiliki tempat di pasar lokal. Konsumen tak lagi melihat hasil laut Kampung Terih sebagai komoditas murah, melainkan produk UMKM yang punya nilai jual. Keberhasilan ini memang bergantung pada konsistensi para warga dalam menjaga kualitas rasa dan pengemasan. Tanpa standar yang terjaga, produk tersebut sulit menembus pasar yang lebih luas.

Pihak Pertamina tetap memantau perkembangan kelompok binaan ini secara berkelanjutan. Harapannya, kampung ini bisa menjadi contoh bagaimana masyarakat pesisir mampu mengoptimalkan kekayaan alam laut mereka dengan cara yang cerdas.

Kini, setiap kali nelayan membawa pulang hasil tangkapan, bukan lagi raut cemas yang muncul karena fluktuasi harga. Mereka tahu, hasil laut tersebut akan segera diolah menjadi pundi-pundi rupiah yang lebih pasti di tangan para perempuan tangguh di rumah mereka masing-masing.

Langkah selanjutnya bagi pelaku UMKM di sini adalah memperluas jaringan distribusi produk. Mereka tidak hanya dituntut untuk pintar mengolah, tetapi juga harus mulai melek pasar digital agar produk olahan laut khas Kampung Terih bisa sampai ke meja makan konsumen di luar wilayah Batam.

Kemandirian ini bukan lagi sekadar impian, melainkan sudah menjadi realitas di setiap sudut kampung tua yang kini berbenah diri.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair