Suara gemuruh dari arah perbukitan memecah keheningan Kabupaten Solok, Sumatra Barat, pada Senin (21/9) sore. Dalam hitungan menit, air bah bercampur lumpur dan bebatuan besar menghantam pemukiman warga serta menutup akses utama transportasi antarprovinsi. Kejadian ini membuat warga panik, berlarian mencari tempat lebih tinggi demi menyelamatkan nyawa.
Empat warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat terseret material kayu dan bebatuan yang dibawa arus deras. Sementara itu, puluhan keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka yang terendam lumpur setinggi lutut, bahkan lebih di beberapa titik. Mereka kini menempati lokasi pengungsian sementara yang disiapkan pihak kecamatan.
Jalur Ekonomi Terputus
Banjir bandang ini bukan sekadar luapan air biasa. Material padat berupa batang pohon dan bongkahan batu menutup total ruas jalan nasional yang menghubungkan Solok dengan provinsi tetangga. Kendaraan yang terlanjur melintas terpaksa berhenti total. Antrean panjang tak terelakkan.
Distribusi logistik pangan dan bahan bakar pun terhenti seketika, menyebabkan keresahan bagi pelaku usaha transportasi di wilayah tersebut.
Petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok, kepolisian, dan relawan langsung diterjunkan ke lokasi. Mereka bekerja di bawah tekanan sisa hujan dan tanah yang masih labil. Evakuasi empat korban luka dilakukan dengan penuh kehati-hatian menggunakan tandu darurat menuju fasilitas kesehatan terdekat. Beruntung, tak ada laporan korban jiwa hingga Senin malam.
Medan yang berat menyulitkan alat berat untuk masuk menembus tumpukan material. Tumpukan kayu besar tersangkut di jembatan dan gorong-gorong, menghambat aliran air yang sebenarnya sudah mulai surut. Petugas harus memotong batang pohon satu per satu menggunakan gergaji mesin agar aliran sungai kembali lancar dan akses jalan bisa dibuka kembali secara bertahap.
Ketidakpastian Warga
Di tempat pengungsian, wajah-wajah lelah terlihat jelas. Banyak warga yang hanya membawa baju di badan. Mereka cemas memikirkan kondisi rumah yang ditinggalkan, apalagi aliran listrik di beberapa dusun terpaksa dipadamkan untuk menghindari korsleting. Trauma mendalam membekas, terutama pada anak-anak yang harus terbangun di tengah malam oleh dentuman batu yang menghantam dinding rumah warga.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.