Bagi Gaza, dampaknya langsung terasa. Selama penarikan pasukan belum disepakati, serangan Israel berpotensi terus berlanjut dan ruang untuk gencatan senjata tetap rapuh. Bagi Washington, ini juga menjadi ujian politik. Trump sempat menyebut kesepakatan itu “bersejarah” pada 30 Juli, dengan klaim pelucutan senjata sepenuhnya bagi Hamas dan kelompok bersenjata lain di Gaza.
Republika melaporkan, penolakan Netanyahu juga dibaca sebagai sikap yang jarang terjadi karena ia secara terbuka berbeda pandangan dengan Trump dan Amerika Serikat, sekutu terkuat Israel. Laporan itu menyebut rencana 15 poin tersebut awalnya diumumkan pada 30 Juli dan diklaim telah disetujui Hamas.
Namun, hingga Netanyahu menyatakan penolakan pada Minggu, belum ada sinyal kesepakatan final yang bisa menghentikan operasi militer di lapangan.
Di saat pembicaraan politik masih bergulir, situasi di Gaza tetap keras. Israel terus melancarkan serangan mematikan hampir setiap hari sejak menyepakati gencatan senjata dengan Hamas pada Oktober lalu. Posisi Netanyahu membuat peta negosiasi kembali ke titik yang familiar: keamanan Israel didahulukan, sementara masa depan Gaza masih menunggu jawaban.
“Mereka memiliki gagasan-gagasan; beberapa dapat kami terima dan beberapa tidak, dan kami tahu cara bersikap tegas dalam hal-hal ini,” kata Netanyahu dalam rapat kabinet.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.